PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Rabu, 12 Maret 2014

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MALARIA

Dr. Suparyanto, M.Kes

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MALARIA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum penulis memulai pembahasan lebih lanjut mengenai penyakit malaria, ada baiknya saya memaparkan sedikit bahwa malaria ialah penyakit berbahaya, penyakit yang telah merenggut jutaan bahkan mungkin milyaran  nyawa di dunia.
Penyakit ini sudah berumur ribuan tahun. Wabah malaria ini di sebarkan oleh makhluk imut kecil yang sangat berbahaya. Kalian tentu sudah tahu siapa sosok nyamuk itu. Dia hidup berdampingan dengan kita. Dia bisa ada di mana saja, dirumah, sekolah, pasar, hotel, perkantoran, bahkan di hutan ataupun gua juga ada. Hewan lemah inilah yang menyebarkan terror di seluruh bagian dunia ini
Walaupun begitu tidak semua nyamuk bisa menyebarkan/menularkan wabah malaria ini, nyamuk yang menularkan penyakit ini ialah keluarga “anophles”. Merekalah tersangka dibalik pembunuhan jutaan jiwa warga dunia.
Berbagai kegiatan yang sudah dilakukan untuk mengurangi insiden malaria adalah :
  • Mengindari atau mengurangi kontak/gigitan nyamuk anopheles (memakai kelambu, obat nyamuk dll).
  • Membunuh nyamuk dewasa menggunakan berbagai insektisida dan fooging/pengasapan oleh pemerintah.
  • Membunuh jentik/kegiatan anti larva, baik secara kimiawi dengan larvasida maupun biologik dengan ikan, tumbuhan, jamur dan bakteri.
  • Mengurangi tempat perindukan (source reduction).
  • Mengobati penderita malaria.
  • Pemberian pengobatan untuk pencegahan (profilaksis).
  • Vaksinasi (masih dalam tahap riset dan clinical trial).
Adapun sebagian kecil kejadian penyebaran wabah ini yang pernah terjadi di indonesia yaitu di pulau sabu dan pulau semau pulau ini menjadi saksi kembali mengganasnya penyakit ini. Tercatat, tidak kurang dari 1.730 orang sabu (Pos Kupang 06/05) dan 556 orang semau (Pos Kupang 05/05) positif malaria. Dari jumlah ini sedikitnya delapan bocah di desa uitiuana, kecamatan semau, akhirnya menyerahkan nyawanya direnggut keganasan penyakit itu.
Dalam buku the World Malaria Report 2005, badan kesehatan dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria
Itulah sebagian kecil dari keganasan penyakit terkenal “malaria” ini.

1.2 Tujuan Umum
Tujuan yang diharapkan dari pembuatan makalah ini, agar mahasiswa dapat mengerti tentang penyakit Malaria, Pencegahan, pemberantasan dan pengobatan Malaria.
1.3 Tujuan Khusus
Tujuan khusus pembuatan makalah ini untuk memenuhi tugas Epidemologi yang telah diberikan oleh dosen pengajar kami.




BAB II
TINJAUAN KASUS
2.1  Pengertian Malaria
Istilah malaria ini diperkenalkan oleh dr. Francisco torti pada abad ke-17. Dalam perkataan itali malaria bermaksud udara kotor. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang disebut plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Plasmodium yang menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies plasmodium falciparum dan plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae, dan plasmodium knowlesi. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk anopheles, terutamanya anopheles sundaicus diasia dan anopheles gambiae di afrika.
Jenis malaria yang paling ringan adalah malaria tertiana yang disebabkan oleh plasmodium vivax, dengan gejala demam yang dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma,mengigau serta kematian.
Malaria kuartana yang disebabkan oleh plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama dari pada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari dan ini merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan, disebabkan oleh plasmodium ovale dan mirip dengan malaria teriana. Pada masa inkubasi malaria, protozoa tumbuh di dalam sel hati; beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, kemudian organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah dan menyebabkan demam pada penderita.
Ada dua macam perkembangbiakan sel pada plasmodium, yaitu:
1.    Pembiakan seksual.
Pembiakan ini terjadi di dalam tubuh nyamuk melalui proses sporogoni. Bila mikrogametosit (sel jantan) dan makrogametosit (sel betina) terhisap vektor bersama darah penderita, maka proses perkawinan antara kedua sel kelamin itu akan terjadi. Dari proses ini akan terbentuk zigot yang kemudian akan berubah menjadi ookinet dan selanjutnya menjadi ookista. Terakhir ookista pecah dan membentuk sporozoit yang tinggal dalam kelenjar ludah vektor.
Perubahan dari mikrogametosit dan makrogametosit sampai menjadi sporozoit di dalam kelenjar ludah vektor disebut masa tunas ekstrinsik atau siklus sporogoni. Jumlah sporokista pada setiap ookista dan lamanya siklus sporogoni, pada masing-masing spesies plasmodium adalah berbeda, yaitu: plasmodium vivax: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 30-40 butir dan siklus sporogoni selama 8-9 hari. Plasmodium falsiparum: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 10-12 butir dan siklus sporogoni selama 10 hari. Plasmodium malariae: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 6-8 butir dan siklus sporogoni selama 26-28 hari. 

2.    Pembiakan aseksual.
Pembiakan ini terjadi di dalam tubuh manusia melalui proses sizogoni yang terjadi melalui proses pembelahan sel secara ganda. Inti troposoit dewasa membelah menjadi 2, 4, 8, dan seterusnya sampai batas tertentu tergantung pada spesies plasmodium. Bila pembelahan inti telah selesai, sitoplasma sel induk dibagi-bagi kepada setiap inti dan terjadilah sel baru yang disebut merozoit.
Kelima, reaksi terhadap rangsangan. Plasmodium memberikan reaksi terhadap rangsangan yang datang dari luar, ini sebagai upaya plasmodium untuk mempertahankan diri seandainya rangsangan itu berupa ancaman terhadap dirinya. Misalnya, plasmodium bisa membentuk sistem kekebalan (resistensi) terhadap obat anti malaria yang digunakan penderita.
Dengan adanya proses-proses pertumbuhan dan pembiakan aseksual di dalam sel darah merah manusia, maka dikenal ada tiga tingkatan (stadium) plasmodium yaitu:
a. Stadium tropozoit, plasmodium ada dalam proses pertumbuhan.
b. Stadium sizon, plasmodium ada dalam proses pembiakan.
c. Stadium gametosit, plasmodium ada dalam proses pembentukan sel kelamin 

2.2 Jenis Malaria
Penyakit ini memiliki empat jenis dan disebabkan oleh spesies parasit yang berbeda. Jenis malaria itu adalah:
1.  Malaria ertian (paling ringan), yang disebabkan plasmodium vivax dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).
2.  Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian.
3.  Malaria kuartana yang disebabkan plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria ertian atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala itu kemudian akan terulang lagi tiap tiga hari.
4. Malaria pernisiosa, disebabkan oleh plasmodium vivax, gejala dapat timbul sangat mendadak, mirip stroke, koma disertai gejala malaria yang berat.
2.3 Faktor Host
1.    Umur, jenis kelamin, ras
2.    Hereditas, perkembangan individu
3.    Tingkah laku dan kebiasan
4.    Mekanisme pertahanan tubuh umum maupun spesifik
5.    Status gizi
Gejala serangan malaria pada penderita yaitu:
a.    Gejala klasik, biasanya ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan (immunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan:
Ø Menggigil (selama 15-60 menit
Ø Demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita mengigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajad celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5 persen) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajad celcius.
Ø Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.
b.    Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria:
ü Demam
ü Menggigil
ü Berkeringat
ü Dapat disertai dengan gejala lain: sakit kepala, mual dan muntah.
ü Gejala khas daerah setempat: diare pada balita (di timtim), nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa (di papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di iaskarta).
c.    Gejala malaria berat atau komplikasi, yaitu gejala malaria klinis ringan diatas dengan disertai salah satu gejala di bawah ini:
ü Gangguan kesadaran (lebih dari 30 menit)
ü Kejang, beberapa kali kejang
ü Panas tinggi diikuti gangguan kesadaran
ü Mata kuning dan tubuh kuning
ü Perdarahan di hidung, gusi atau saluran pencernaan
ü Jumlah kencing kurang (oliguri)
ü Kelemahan umum (tidak ias duduk/berdiri)
ü Nafas sesak
d.   Kadar darah putih, leukosit, cenderung meningkat. Jika tidak segera diobati biasanya akan timbul jaundice ringan (sakit kuning) serta pembesaran hati dan limpa.
e.    Kadar gula darah rendah.
f.     Jika sejumlah parasit menetap di dalam darah kadang malaria bersifat menetap. Menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa pahit pada lidah, lemah, sertai demam.
Adapun gejala gejala malaria berdasarkan jenis malaria antara lain:
a)    Gejala malaria vivax & ovale
Gejala yang terlihat sangat samar; berupa demam ringan yang tidak menetap, keringat dingin, dan berlangsung selama 1 minggu membentuk pola yang khas. Biasanya demam akan terjadi antara 1 – 8 jam. Setelah demam reda, pengidap malaria ini merasa sehat sampai gejala susulan kembali terjadi. Gejala jenis malaria ini cenderung terjadi setiap 48 jam.
b)   Gejala malaria falciparum
Gejala awal adalah demam tinggi, suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun. Serangan ias berlangsung selama 20 – 36 jam, dan penderita mengalami sakit kepala hebat. Setelah gejala utama mereda, pengidap akan merasa tidak nyaman.
c)    Gejala malaria malariae (kuartana)
Suatu serangan seringkali dimulai secara samar-samar. Serangannya menyerupai malaria vivax, dengan selang waktu setiap 72 jam.
2.4 Faktor Agent
Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit/kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer). Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit.
Sebagian besar merozoit masuk kembali ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidupnya di tubuh nyamuk (stadium sporogoni).
Didalam lambung nyamuk, terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang kemudian pecah, keluar sporozoit yang berpindah ke kelenjar liur nyamuk dan siap untuk ditularkan ke manusia.
Khusus plasmodium vivax dan plasmodium ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati (sizon jaringan) sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke sel eritrosit, akan tetapi tertanam di jaringan hati –disebut hipnosit-. Bentuk hipnosit inilah yang menyebabkan malaria relapse. Pada penderita yang mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah, sibuk, stress atau perubahan iklim (musim hujan), hipnosoit dalam tubuhnya akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari sel hati ke eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul kembali gejala penyakit. Misalnya 1 – 2 tahun sebelumnya pernah menderita plasmodium vivax/ovale dan sembuh setelah diobati, bila kemudia mengalami kelelahan atau stress, gejala malaria akan muncul kembali sekalipun yang bersangkutan tidak digigit oleh nyamuk anopheles. Bila dilakukan pemeriksaan, akan didapati sd positif plasmodium vivax/ plasmodium ovale.
Pada plasmodium falciparum serangan dapat meluas ke berbagai organ tubuh lain dan menimbulkan kerusakan seperti di otak, ginjal, paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya malaria berat atau komplikasi. Plasmodium falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua – bila jaringan tersebut berada di dalam otak- peristiwa ini disebut sekustrasi. Pada penderita malaria berat, sering tidak ditemukan plasmodium dalam darah tepi karena telah mengalami sekuestrasi. Meskipun angka kematian malaria serebral mencapai 20-50% actor semua penderita yang tertolong tidak menunjukkan gejala sisa neurologis (sekuele) pada orang dewasa. Malaria pada anak kecil dapat terjadi sekuel.

Karakteristik Agent berkaitan dengan Host
a.    Infekrilitas
·      Kemampuan actor penyebab masuk dan berkembang biak. Dapat dianggap bahwa jumlah minimal dari actor penyebab untuk menimbulkan infeksi terhadap 50% pejamu spesies sama.
·      Dipengaruhi oleh sifat penyebab, cara penularan, sumber penularan, serta actor pejamu seperti umur, sex dll.
·      Infektifitas tinggi : campak. Infektifitas rendah : lepra
b.    Patogenesis
·      Kemampuan agent untuk menghasilkan penyakit dgn gejala klinik yang jelas.
·      Dipengaruhi oleh adanya infektivitas
·      Staphillococcus tidak actorn bila di actor. Tapi bila di rongga peritoneum atau selaput otak, akan serius.
c.    Viruslensa
·      Nilai proporsi penderita dgn gejala klinis yang berat thd seluruh penderita dgn gejala klinis yang jelas.
·      Dipengaruhi dosis, cara masuk/penularan, actor pejamu.
·      Poliomyelitis lebih berbahaya bila mengenai org dewasa daripada anak-anak.
d.   Antigenesitas/ Imunogenisitas
·      Kemampuan AGENT menstimulasi HOST untuk menghasilkan kekebalan/imunitas.
·      Dapat berupa kekebalan humoral primer, kekebalan seluler atau campuran keduanya.
·      Dipengaruhi oleh actor pejamu, dosis dan virulensi infeksi.
·      Campak dapat menghasilkan kekebalan seumur hidup. Gonococcus tidak demikian, orang dapat terkena gonore beberapa kali.
2.5 Faktor Environment
1.    Lingkungan fisik
2.    Lingkungan sosial-ekonomi
3.    Lingkungan biologik
Periode Patogenesis
Mekanisme Patogenesis adalah efek patogen yang dihasilkan oleh unsur penyebab infeksi dapat terjadi karena mekanisme:
§   Invasi langsung ke jaringan : Penyakit parasit seperti amubiasis, giardiasis.Beberapa jenis cacing nematoda, cestoda. Infeksi bakteri (meningitis), ISK, faringitis, virus, dsb.
§   Produksi toksin oleh unsur penyebab :Seperti tetanus, difteri, enterotoksin dari E. Coli.
§   Rangsang imunologis atau reaksi alergi: Termasuk tuberculosis, DBD, dll.
§   Infeksi yang menetap (infeksi laten): Bakteri mungkin tetap berada di pejamu dengan keadaan tanpa gejala setelah mengalami infeksi. Seperti hemophillus influenzae, neisseria meningitidis, streptococcus, dll. Jenis infeksi virus mis. Herpes zoster, herpes simplex, varicella zoster, encephlitis, dsb.
§   Peningkatan kepekaan pejamu melawan obat yang tidak toksis: Rey’s syndrom, dimana infeksi virus dpt menyebabkan encephalopathy bila diobati salisilat.
§   Ketidakmampuan membentuk imunitas: AIDS, CFR 70%



BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pencegahan Malaria
Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini. Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat. Pencegahan tanpa obat, yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan cara :
1.        Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida.
2.        Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (repellent).
3.        Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.
4.        Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
5.        Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
6.        Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar.
7.        Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk.
8.        Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air.
9.        Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obat anti larva (bubuk abate) pada genangan air atau menebarkan ikan atau hewan (cyclops) pemakan jentik.
10.    Melestarikan hutan bakau agar nyamuk tidak berkembang biak di rawa payau sepanjang pantai.
3.2  Pemberantasan Malaria
Pemberantasan malaria bertujuan untuk mencegah kematian akibat malaria, terutama jika terjadi KLB, menurunkan angka kematian, menurunkan angka kesakitan (insidensi dan prevalensi), meminimalkan kerugian sosial dan ekonomi akibat malaria.
Pemberantasan malaria haruslah rasional, harus berbasis pada epidemiologinya; sarannya: manusia / penduduk, parasit malaria, vektor dan lingkungannya.
Program pemberantasan malaria dilaksanakan dengan sasaran:
1.    Kasus atau penderita yang diagnostik terbukti positif gejala klinis dan parasitnya dalam darah à diberi pengobatan dan perawatan menurut SOP atau protokol bakunya di puskesmas atau rumah sakit;
2.    Penduduk daerah endemik à diberikan penyuluhan kesehatan dan dibagikan kelambu berinsektisida.
3.    Nyamuk vektornya dengan pengendalian vektor cara kimia, hayati atau manajemen lingkungan, atau secara terpadu.
4.    Lingkungan à dengan memodifiksi atau memanipulasi lingkungan supaya tidak cocok lagi jadi habitat vektor à vektor pindah tempat atau berkurang kepadatannya secara nyata.

3.3  Pengobatan Malaria
Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan relaps, serta mengurangi kerugian sosial ekonomi (akibat malaria). Tentunya, obat yang ideal adalah yang memenuhi syarat:
a.    Membunuh semua stadium dan jenis parasit
b.    Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps
c.    Toksisitas dan efek samping sedikit
d.   Mudah cara pemberiannya
e.    Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
Sayangnya, dalam pengobatan didapatkan hambatan operasional dan teknis.
Hambatan operasioanal itu adalah:
1)   Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik, bahkan obat palsu.
2)   Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus di puskesmas.
3)   Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis trandar yang telah ditetapkan.
4)   Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (misal, klorokuin untuk tiga hari, hanya diminum satu hari saja) sementara itu, hambatan teknisnya adalah gagal obat atau resistensi terhadap obat.
Obat yang ideal yaitu:
1.        Membunuh semua stadium dan jenis parasit
2.        Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps
3.        Toksisitas dan efek samping sedikit
4.        Mudah cara pemberiannya
5.        Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
6.        Sedangkan hambatan operasional dalam pengobatan adalah:
7.        Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik, bahkan obat palsu.
8.        Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus di puskesmas.
9.        Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis trandar yang telah ditetapkan.
10.    Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (misal klorokuin untuk 3 hari, hanya diminum 1 hari saja).
Adabeberapa jenis obat yang dikenal umum yang dapat digunakan dalam pengobatan penyakit malaria, antara lain:
a.    Klorokuin
b.    Primakuin
c.    Kina
d.   Sulfadoksin pirimetamin (sp)
e.    Sambiloto
f.     Pulai
g.    Johar
h.    Bratawali
i.      Vaksin



BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Malaria adalah penyakit mematikan yang disebarkan melalui perantara nyamuk anopheles. Malaria ialah penyakit yang disebabkan oleh plasmodium.
Plasmodium ialah parasit yang bersel tunggal yang terdiri atas 4 jenis plasmodium yaitu:
a. Plasmadium vivax : yang menyebabkan malaria tertiana benigna.
b. Plasmadium ovale : yang menyebabkan malaria tertiana benigna
c. Plasmadium malariae : yang menyebabkan malaria quartana
d. Plasmadium falciparum: yang menyebabkan malaria tertiana maligna yang berat, Progresif dan biasanya fatal.
Penyakit ini dapat diobati dengan menggunakan tanaman obat seperti, Klorokuin, Primakuin, Kina, Sulfadoksin pirimetamin (sp), Sambiloto, Pulai, Johar, Bratawali, Vaksin.
Agar kita terhindar dari penyakit malaria, hendaknya kita melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk anopheles. Pencegahannya bisa dengan menggunakan obat dan ada juga yang tanpa obat. Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini. Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat.

4.2 KRITIK DAN SARAN
Dari makalah Ilmu Kesehatan Masyarakat yang telah kami buat ini, kemungkinan besar banyak kritikan dan saran dari pembaca. Dari pembahasan  dan seluruh isi yang tersusun dalam  makalah ini diharapkan dapt membantu pembaca dalam penambahan Ilmu, kritik dan saran akan sangat membantu makalah yang lebih atau mendekati sempurna. 

DAFTAR PUSTAKA

Arlan Prabowo. Malaria: Mencegah dan Mengatasi, Penerbit Niaga Swadaya
Faisal Yatim, DTM&H, MPH. Macam-macam Penyakit Menular: Yayasan OborIndonesia
Faisal Yatim, DTM&H, MPH. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya: Yayasan OborIndonesia
id.wikipedia.org/wiki/malaria
www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/data/emil.pdf
www.penyakitmenular.info
www.wartamedika.com/2006/09/pencegahan-malaria.html
www.geocities.com/mitra_sejati_2000/malaria.htm
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar