PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 11 Maret 2014

EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS

Dr. Suparyanto, M.Kes



EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

1.2  Tujuan dan sasaran
-Tujuan umum
1.Mengetahui Penyebab utama HIV/AIDS
2.Mengetahui cara penularan HIV/AIDS
3.Mengetahui cara penanganan dan pencegahan HIV/AIDS
4.Dapat menjelaskan Penyakit HIV/AIDS
-Tujuan khusus
Memberi pemahaman tentang kondisi HIV/AIDS
Ø  Sasaran
      Terselesainya makalah ini kami berharap dapat bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, dan umum untuk menuju kesuksesannya dalam bidang kesehatan terutama di bidang kebidanan agar mudah dan aman dalam melayani seorang pasien.


1.3    Permasalahan
1.    Penyakit AIDS disebabkan oleh apa?
2.    Bagaimana cara penularan penyakit HIV/AIDS?
3.    Bagaimana perjalanan penyakit HIV/AIDS?
4.    Bagaimana cara pencegahan penyakit HIV/AIDS?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Definisi
HIV yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab AIDS. HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau cairan vagina. Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun.
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merosak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.

2.2       Faktor Agent (Penyebab)
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus  yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali di isolasi oleh Montagnier dan kawan– kaa i Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan  Gallo di Amerika Serikat pada Tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas ksepakatan internasional padaTahun 1986 nama firus  dirubah menjadi HIV. Muman Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus  RNA. Dalam   Bentukny yang asli merupakan partikel yang inert, tidak apat berkembang atau Melukai sampai ia suk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T,Karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang  dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap Hidup lama dalam sel  dengan keadaan in aktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh Pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat Ditularkan  selama hidup  penderita tersebut. Secara mortologis HIV  terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan Bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris  tersusun  atas  dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120).Gp 120 Berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap Pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan Dengan berbagai disinfektan seperti eter , aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan Sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar ultraviolet.
Virus  HIV hidup dalam darah, savila,  semen, air mata dan mudah mati diluar Tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.  

2.3 Faktor Host ( Penjamu )
KERENTANAN WANITA PADA INFEKSI HIV :Wanita lebih rentan terhadap penularan HIV akibat faktor anatomis-biologis dan faktor sosiologis-gender.Kondisi anatomis-biologis wanita menyebabkan struktur panggul wanita dalam posisi “menampung”, dan alat reproduksi wanita sifatnya “masuk kedalam” dibandingkan pria yang sifatnya “menonjol keluar”. Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi infeksi khronik tanpa diketahui oleh ybs. Adanya infeksi khronik akan memudahkan masuknya virus HIV.Mukosa (lapisan dalam) alat reproduksi wanita juga sangat halus dan mudah mengalami perlukaan pada proses hubungan seksual. Perlukaan ini juga memudahkan terjadinya infeksi virus HIV. Faktor sosiologis-gender berkaitan dengan rendahnya status sosial wanita (pendidikan, ekonomi, ketrampilan). Akibatnya kaum wanita dalam keadaan rawan yang menyebabkan terjadinya pelcehan dan penggunaan kekerasan seksual, dan akhirnya terjerumus kedalam pelacuran sebagai strategi survival.
Status yang rawan terjangkit HIV ;
(1) Bayi dan anak dari ibu yang menderita HIV 
(2) paling luas pada masa remaja dan dewasa muda, karena maraknya pergaulan bebas.
(3) PSK ( Pekerja Seks Komersial) dan pelanggannya
(4) TKI/TKW
(5) Biseksual yang sering berganti-ganti pasangan.

2.4       Faktor Environment ( Lingkungan )
Kondisi lingkungan dapat pula menjadi faktor penyebab penularan HIV. Kondisi lingkungan yang selau berubah dapat menurunkan kondisi fisik manusia sehingga dia rentan terhadap penyakit atau kondisi lingkungan yang berubah sehingga agent dapat berkembang biak dengan pesat pada lingkungan tersebut yang menyebabkan timbulnya penyakit.
Seseorang yang tinggal dengan lingkungan orang-orang yang terjangkit HIV akan beresiko lebih tinggi untuk tertular Virus HIV.

2.5       Port Of Entri dan Port Of Exit
Tempat masuk kuman Human imuno defisiensi virus ada 3 cara :
  • Hubungan seks (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
  • Transfusi darat atau penggunaan jarum suntik secara bergantian.
  • Mother-to-Child Transmission : Dari ibu yang terjangkit HIV pada anaknya
Perlu diketahui HIV tidak ditularkan melalui jabatan tangan, sentuhan, ciuman, pelukan, menggunakan peralatan makan/minum yang sama, gigitan nyamuk, memakai jamban yang sama atau tinggal serumah.
Ø  Masa Inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus
HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-
rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi
penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit.
         Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan “masa wndow periode”.
         Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan
virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV.
Mengingat  masa inkubasi yang relatif  lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan
gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

2.5       Transmisi
Di bawah ini beberapa transmisi pada HIV/AIDS :

Ø  Transmisi seksual

Penularan seksual terjadi dengan kontak antara sekresi seksual dari satu orang dengan membran mukosa rektum, alat kelamin atau mulut pasangannya. Unprotected tindakan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada tindakan seksual insertif, dan risiko penularan HIV melalui hubungan seks dubur tanpa kondom lebih besar daripada risiko dari hubungan seksual vagina atau seks oral. Namun, seks oral tidak sepenuhnya aman, karena HIV dapat ditularkan melalui seks oral reseptif maupun insertif.

Ø  Paparan patogen melalui darah

Ini rute transmisi sangat relevan dengan pengguna narkoba intravena, penderita hemofilia dan penerima transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi HIV merupakan risiko utama untuk infeksi HIV. Berbagi jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi HIV baru-di Amerika Utara, Cina, dan Eropa Timur. Risiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang telah digunakan pada orang yang terinfeksi HIV diperkirakan sekitar 1 dalam 150 (lihat tabel di atas). Profilaksis pasca pajanan dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko ini. Rute ini juga dapat mempengaruhi orang-orang yang memberi dan menerima tato dan tindik.

Ø  Transmisi perinatal

Transmisi virus dari ibu ke anak dapat terjadi in utero''''selama minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat melahirkan. Dengan tidak adanya perawatan, tingkat transmisi antara ibu dan anaknya selama kehamilan, persalinan dan melahirkan adalah 25%.
Namun, ketika ibu membutuhkan terapi antiretroviral dan melahirkan melalui operasi caesar, tingkat transmisi hanya 1%. ibu yang terinfeksi HIV harus menghindari menyusui bayi mereka. Namun, jika hal ini tidak terjadi, menyusui eksklusif direkomendasikan selama bulan-bulan pertama kehidupan dan dihentikan sesegera mungkin. Perlu dicatat bahwa wanita dapat menyusui anak-anak lain yang tidak mereka sendiri.

Fakta Transmisi HIV/AIDS :

  • Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
  • Jarum suntik/tindik/tato yang tidka steril dan dipakai bergantian
  • Mendapatkan tarnsfusi darah yang mengandung virus HIV
  • Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
  • HIV tidak ditularkan meallui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), menggunakan toilet duduk, berbagi alat makan makanan atau gelas minum, berjabat tangan, atau melalui ciuman.
  • HIV tidak dapat bertahan untuk waktu yang lama di luar tubuh.
  • Virus hanya dapat ditularkan dari orang ke orang, bukan melalui gigitan binatang atau serangga
  • Orang yang terinfeksi HIV yang memakai ART masih dapat menulari orang lain melalui hubungan seks dan jarum-berbagi

BAB III
PEMBAHASAN

3.1       Metode pencegahan HIV/AIDS
Ada 2 cara pencegahan AIDS yaitu jangka pendek dan jangka panjang :
1.         Upaya Pencegahan AIDS Jangka Pendek
Upaya   pencegahan   AIDS   jangka   pendek   adalah   dengan   KIE,   memberikan
informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS
            (HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya.
Pada prinsipnya, pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan virus AIDS. Karena penularan AIDS terbanyak adalah melalui hubungan seksual maka penularan AIDS bisa dicegah dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual. Pencegahan lain adalah melalui pencegahan kontak darah, misalnya pencegahan penggunaan jarum suntik yang diulang, pengidap virus tidak boleh menjadi donor darah.Secara ringkas, pencegahan dapat dilakukan dengan formula A-B-C.
o   A adalah abstinensia, artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Atau PUASA melakukan hubungan seks.
o   B adalah be faithful, artinya jika sudah menikah harus SETIA hanya berhubungan seks dengan pasangannya saja.
o   C adalah CONDOM
artinya jika memang cara A dan B tidak bisa dipatuhi maka harus digunakan alat pencegahan dengan menggunakan kondom.
2.         Upaya pencegahan jangka panjang
Upaya jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah merajalelanya AIDS adalah merubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan yang meningkatkan norma-norma agama maupun sosial sehingga masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab.
            Yang dimaksud dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah :
a)    Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
b)    Hanya melakukan hubungan seksual dengan  mitra seksual yang setia dan tidak
             terinfeksi HIV (monogamy).
c)   Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila.
d)   Menghindari hubungan  seksual dengan orang yang mempunyai lebih dari satu
            mitra seksual.
e)  Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin.
f)   Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin
g)  Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS.
h)  Tidak melakukan hubungan anogenital.
i)   Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual.
Kegiatan tersebut dapat berupa dialog antara tokoh-tokoh agama,
penyebarluasan informasi tentang AIDS dengan bahasa agama, melalui penataran P4
dan lain-lain yang bertujuan untuk mempertebal iman serta norma-norma agama menuju perilaku seksual yang bertanggung jawab.
Dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab diharapkan  mampu mencegah penyebaran penyakit AIDS di Indonesia.

3.2       Pemberantasan HIV/AIDS
Tujuan pemberantasan HIV/AIDS adalah untuk meningkatkan usia harapan hidup penduduk indonesia, menekan angka kematian remaja dan demi mewujudkan salah satu sasaran MDG’s.
lima langkah untuk berantas epidemi AIDS. Wapres Boediono mengatakan “angka prevalensi penderita AIDS memang masih rendah, yakni 0,17% dari seluruh penduduk, namun jumlah penderita baru terus meningkat”. Oleh karena itu di bentuklah 5 Langkah pemberantasan HIV/AIDS yaitu:
 
1.    perluasan jaringan fasilitas pelayanan bagi penderita HIV/AIDS.
2.    peningkatan keikutsertaan masyarakat dalam pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.
3.    perbaikan koordinasi dan tata kelola dari semua pihak dan instansi yang ikut menangani masalah HIV/AIDS di tanah air.
4.    perbaikan sistem informasi.
5.     mobilisasi dana, baik dari luar maupun dalam negeri, untuk membiayai peningkatan kuantitas dan kualitas penanganan HIV/AIDS di tanah air.

Wapres juga mengatakan kelompok yang paling rawan terhadap HIV/AIDS adalah kelompok usia 15-49 tahun, atau kelompok produktif. Oleh karena itu, sangat perlu kelompok ini dibekali dengan pengetahuan dan layanan, sehingga mampu melindungi dirinya dan melindungi orang lain terhadap risiko-risiko penularan HIV/AIDS.

"Marilah kita amankan sasaran MDG’s yang telah kita tetapkan di bidang penanggulangan penyakit ini di tanah air. Dan akhirnya marilah kita mantapkan niat dan tekad kita semua untuk mencapai sasaran itu, dengan semangat baru mengiringi peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini” tandasnya.

3.3       Pengobatan
                        Mengingat sampai saat ini obat untuk mengobati dan vaksin untuk mencegah
AIDS belum ditemukan, maka alternatif  untuk menanggulangi masalah AIDS yang
terus meningkat ini adalah dengan upaya pencegahan oleh semua pihak untuk tidak
terlibat dalam lingkaran transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV.  
Pada dasarnya upaya pencegahan  AIDS dapat dilakukan oleh semua pihak asal mengetahui cara-cara penyebaran AIDS.

BAB IV
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. ini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981.

1.2  Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak. Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu kami segenap tim penyusun mohon maklum adanya karna kami masih dalam tahab pembelajaran.
Akhir kata kami segenap tim penyusun mohon tanggapan berupa kritik dan saran yang membangun.


DAFTAR PUSTAKA
1.    Berita AIDS III No. 3/ 1994.
2.    Berita AIDS III No. 4/1994.
3.    Departemen Kesehatan RI ”Petunjuk Pengembangan Program Nasional Pemberantasan dan Pencegahan AIDS, Jakarta 1992.
4.    Syarifuddin Djalil “Pelayanan Laboratorium Kesehatan Untuk Pemeriksaan Serologis AIDS”AIDS;   Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 1989.
5.    Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia No 6 /XX / 1992.
6.    Soemarsono “Patogenesis, Gejala klinis dan Pengobatan Infeksi HIV” AIDS; Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta 1989.
7.    Wibisono Bing “Epidemologi AIDS”AIDS; Petunjuk Untuk Petugas Kesehatan RI Jakarta 1989.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar