PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 13 Maret 2014

PATOFISIOLOGI SISTEM PERSEPSI SENSORI 2

Dr. Suparyanto, M.Kes



PATOFISIOLOGI SISTEM PERSEPSI SENSORI 2

BUTAWARNA
          Butawarna adalah: penglihatan warna-warna yang tidak sempurna
          Pasien tidak atau kurang dapat membedakan warna yang dapat terjadi kongenital atau akibat penyakit tertentu
          Buta warna dikenal dalam tiga bentuk:
1.       Trikromatik (merah, hijau, biru)
2.       Dikromatik (merah, hijau)
3.       Monokromatik  (biru)
          Trikromatik dibagi tiga macam:
1.       Protanomali: kurang merah
2.       Deutranomali: kurang hijau
3.       Tritanomali: kurang biru
          Dikromatik dibagi tiga macam:
1.       Protanopia: tidak kenal merah
2.       Deutranopia: tidak kenal hijau
3.       Tritanopia: tidak kenal biru
          Monokromatik:
1.       Terdapat kelainan penglihatan biru dan kuning
          Butawarna lebih banyak pada laki-laki dengan perbandingan 20 : 1
          Butawarna yang timbul kemudian dapat terjadi pada kelainan makula, seperti rinitis sentral dan degenerasi makula sentral
PAPILEDEMA
          Papiledema atau choked disk adalah pembengkakan papil optik non radang yang berkaitan dengan meningkatnya tekanan intrkranial
          Papiledema akan terjadi pada setiap keadaan yang menyebabkan meningginya tekanan intrakranial yang persisten
          Penyebab: tumor cerebri, abses, hematoma subdural, hidrosepalus, dan hipertenssi ganas
          Faktor penting terjadinya papiledema adalah tersumbatnya aliran vena karena adanya tekanan terhadap vena retina sentral, sewaktu meninggalkan saraf optik melintasi rongga subarachnoid dan rongga subdural
TINITUS
          Tinitus adalah bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal mekanoakustik maupun listrik
          Keluhan dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis atau berbagai macam bunyi yang lain
          Tinitus dibagi dua: tinitus obyektif dan tinitus subyektif
          Tinitus obyektif: bunyi yang timbul dapat juga didengar oleh pemeriksa atau dengan auskultasi disekitar telinga
          Tinitus subyektif: bunyi hanya bisa didengar oleh pasien sendiri
          Tinitus obyektif bersifat vibratorik, berasal dari vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler disekitar telinga
          Tinitus obyektif disebabkan oleh: malformasi arteriovena, tumor glomus jugular, aneurisma, penyakit sendi temporomandibuler, mioklonus palatal
          Tinitus subyektif bersifat nonvibrotik, disebabkan proses iritatif atau perubahan degeneratif traktus auditorius mulai dari sel rambut getar koklea sampai pusat saraf pendengar
          Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditorius yang menimbulkan perasaan adanya bunyi
          Impuls abnormal ini dapat ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga
          Tinitus dapat dibagi: tinitus nada rendah dan tinitus nada tinggi
          Tinitus terjadi akibat tuli sensorineural atau gangguan konduksi
          Tinitus akibat konduksi biasanya nada rendah (bergemuruh)
          Tinitus dengan inflamasi terasa berdenyut (tinitus pulsasi)
          Tinitus nada rendah dan ada gangguan konduksi terdapat pada kasus: serumen, tumor, otitis media, otosklerosis
          Tinitus nada rendah dengan pulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini tumor glomus jugulare
          Tinitus obyektif sering ditimbulkan gangguan vaskuler, bunyinya seirama dengan denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan aterosklerosis
          Intoksikasi obat juga dapat menyebabkan tinitus (salisilat, kina, streptomisin, garamisin, digitalis, kanamisin)
          Hipertensi endolimfatik pada penyakit Meniere juga menyebabkan tinitus
VERTIGO
          Vertigo adalah perasaan berputar
          Sesuai kejadianya vertigo dibagi: vertigo spontan, vertigo posisi dan vertigo kalori
          Vertigo spontan: vertigo yang timbul tanpa rangsangan, rangsangan vertigo spontan berasal dari penyakit Meniere (penyakit akibat meningkatnya tekanan endolimfe)
          Kanalis semisirkularis (ampula) à berkenaan dengan rotasi à terdiri:  ductus semisircularis superior, lateralis, posterior à dalam ampula terdapat krista à didalam krista terdapat kupula
          Vestibularis à berisi: Utriculus dan Sacculus à didalamnya terdapat makula à berkenaan dengan keseimbangan statis (posisi dan gerakan garis lurus)
          Vertigo posisi: timbul akibat perubahan posisi kepala (rangsangan kupula kanalis semisirkularis oleh debris atau pada kelainan servikal)
          Debris adalah kotoran yang menempel pada kupula kanalis semisirkularis
          Vertigo kalori timbul akibat perubahan suhu pada rongga telinga
HIPOSMIA
          Hiposmia adalah sensitifitas penciuman yang menurun
          Kemoreseptor olfactorius terletak didalam bagian khusus mucosa hidung yakni membrana mucosa olfactorius.
          Kemoreseptor olfactorius hanya berespon terhadap senyawa yang berkontak dengan epitel olfactorius dan dilarutkan dalam lapisan tipis mukus yang menutupinya.
          Syarat zat yang dapat di-bau :
          Harus mudah menguap à dapat masuk hidung
          Sedikit larut dalam air sehingga dapat melalui mukus untuk mencapai sel olfactorius
          Harus dapat larut dalam lipid karena diduga rambut olfactorius dan ujung luar sel olfactorius terutama terdiri dari zat lipid
          Silia olfactoria à sel olfactoria (reseptor) à akson olfactoria à glomeruli olfactorius à sel mitral à tractus olfactorius à striae olfactoriae medialis et lateralis à cortex olfactorium
          Ada 107 sel indera primer penciuman à terletak pada neuroepitelium regio olfactorius (epitelium olfaktori)
          Reseptor penciuman (kemoreseptor olfaktori)  bersifat bipolar, ujung dendritnya membawa 5-20 silia yg ditutupi oleh mukus, akson menuju ke otak
HIPOGEUSIA
          Hipogeusia adalah respon pengecapan yang berkurang
          Sel reseptor gustatorius (tunas pengecapan) terletak di lidah, merupakan kemoreseptor yang berespon terhadap senyawa yang dilarutkan dalam cairan mulut
          Pada manusia terletak pada : Lidah, Palatum, Epiglotis, Nasofaring
ORGANUM GUSTATORIUM
          Papilla lingualis
          Papilla fungiformis
          Papilla filiformis
          Papilla sircumvalata
          Tonsila lingualis
          Reseptor gustatorius terdapat dalam papila lingualis
          Macam sensasi pengecapan dan letaknya di lidah :
          Pahit: dorsum posterior linguae
          Manis: ujung lidah
          Asin: dorsum anterior linguae
          Asam: sepanjang tepi (lateral) lidah
JARAS SARAF
          Saraf sensorik 2/3 anterior lidah à chorda tympani dari n facialis ( VII )
          1/3 posterior lidah à n glosofaringius (IX)
          Faring melalui n vagus ( X )
          Ketiganya masuk ke nukleus tractus solitarius di batang otak à kemudian diteruskan oleh lemnicus medialis bersama rasa raba, nyeri dan suhu à menuju area proyeksi pengecapan ( cortex cerebri )

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar