PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 07 Maret 2014

INPARTU DAN TEKNIK MENGEJAN

Dr. Suparyanto, M.Kes



INPARTU DAN TEKNIK MENGEJAN

1.    Pengertian Ibu bersalin (Inpartu)
       Ibu Inpartu (bersalin) adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan dimana saat uterus berkontraksi akan menyebabkan perubahan pada serviks (mendatar dan menipis) (worldhealth 2012).

2.    Pengertian persalinan
       Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar(Sarwono 2005 : 180).
Persalinan adalah proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan, dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai (Manuaba 2009 : 144).
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan membran dari dalam rahim melalui jalan lahir (Bobak 2005 : 245).

3.    Tujuan Persalinan
Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal (Sarwono 2009 : 335).

4.    Teori-teori yang menyebabkan persalinan
Menurut (Manuaba 2009 : 144) yaitu:
a)    Teori kadar progesteron
       Progesteron yang mempunyai tugas mempertahankan kehamilan semakin menurun dengan makin tuanya kehamilan, sehingga otot rahim mudah dirangsang oleh oksitosin
b)    Teori Oksitosin
Menjelang kelahiran oksitosin makin meningkat, sehingga cukup kuat untuk merangsang persalinan.
c)    Teori regangan otot rahim
Dengan meregangnya otot rahim dalam batas tertentu menimbulkan kontraksi persalinan dengan sendirinya.
d)    Teori prostaglandin
Prostaglandin banyak dihasilkan oleh lapisan dalam rahim yang di duga dapat menyebabkan kontraksi rahim. Pemberian prostaglandin dari luar dapat merangsang kontraksi otot rahim dan terjadi persalinan atau gugur kandung.

5.    Tanda-tanda Inpartu
a)    Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b)    Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan pada serviks.
c)    Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d)    Pada pemeriksaan dalam: serviks mendatar dan pembukaan telah ada (Suparyanto 2011).

6.    Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
a)    Power (Kekuatan)
Power disebut juga tenaga atau kekuatan, yang terdiri dari his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari ligament.
b)    Passage (jalan lahir)
Passage disebut juga jalan lahir, jalan lahir dibagi menjadi 2 bagian yaitu : bagian keras tulang-tulang panggul (rangka panggul) dan bagian lunak yaitu otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament-ligament.
c)    Passanger (janin dan plasenta)
   Janin dapat mempengaruhi jalannya kelahiran karena ukuran dan presentasinya. Pada persalinan, karena tulang-tulang masih dibatasi fontanel dan sutura yang belum keras, maka pinggir tulang dapat menyisip antara satu dengan yang lain yang disebut moulage, sehingga kepala bertambah kecil. Biasanya apabila kepala janin sudah lahir maka bagian-bagian lain dari janin dengan mudah menyusul. Karena plasenta juga harus melalui jalan lahir, ia juga dianggap sebagai penumpang yang menyertai janin.

a.     Psikologis
Faktor psikologis meliputi:
1)    Persiapan fisik untuk melahirkan
2)    Pengalaman persalinan
3)    Dukungan orang terdekat
4)    Integritas emosional


b.               Penolong
       Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin. Dalam hal ini proses tergantung dari kemampuan skill dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan (Eniyati 2012 : 17-29).

7.    Tahapan Proses Persalinan
1.     Kala 1
Kala 1 persalinan dibagi atas 2 fase:
1)        Fase laten ini, pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
2)        Fase aktif
Pada fase ini, pembukaan berlangsung 6 jam dan dibagi atas 3 sub fase :
a.         Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm.
b.         Periode dilatasi maksimal : selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
c.         Periode deselerasi : berlangsung lambat dalam 2 jam, pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.
Pada primigravida kala 1 berlangsung ± 13 jam sedangkan pada multigravida  ± 7 jam.

2.     Kala II atau fase pengeluaran
Pada kala II, his terkoordinir kuat, cepat, dan lebih lama terjadi setiap 2-3 menit. Kepala telah turun memasuki ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang menimbulkan rasa ingin mengejan. Tekanan pada rektum akibat penurunan kepala tersebut, menyebabkan ibu ingin mengejan seperti mau buang air besar, dengan tanda anus membuka. Pada waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Adanya his yang terpimpin, akan lahirlah kepala yang diikuti seluruh badan bayi. Kala II pada primi berlangsung 1 ½ jam dan pada multi  ½ jam (Eniyati 2012 : 12-14).

Tanda dan gejala persalinan kala II adalah :
a)    Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
b)    Ibu merasakan ada peningkatan tekanan pada rektum atau vagina.
c)    Perineum menonjol.
d)    Vulva, vagina, dan spinter ani membuka.
e)    Meningkatnya pengeluaran lendir darah.(Dewi 2010 : 62).

8.    Teknik Mengejan Saat Persalinan
       Mengejan adalah tahapan saat pembukaan atau dilatasi mulut rahim mencapai puncaknya, yaitu 10 cm. Pada saat itu konsentrasi terasa semakin kuat dan Anda secara insting akan merasakan dorongan kuat untuk mengejan, mendorong bayi keluar. Dengan teknik mengejan yang benar, bayi bisa didorong keluar tanpa perlu habis-habisan menguras tenaga.
a)    Mengejan dimulai saat persalinan memasuki kala ke-2 yaitu mengejan. Penolong persalinan akan menentukan waktunya, namun secara fisik Anda akan merasakannya saat pembukaan sudah lengkap, kontraksi kian kuat dan sakit, juga ada ‘panggilan’ mengejan dari tubuh.
b)    Mulai mengejan setelah diperintah penolong persalinan.
c)    Tarik napas panjang, mulai mengejan.
d)    Buang napas sedikit demi sedikit.
e)    Angkat kepala saat mengejan.
f)     Konsentrasikan mengejan pada daerah perut, bukan otot leher.
g)    Mata tetap terbuka, arahkan pandangan ke perut.
h)   Kaki dilemaskan, jangan tegang, apa pun posisi melahirkan Anda.
i)     Mulut ditutup, kemudian mengejan ke daerah perut. Jangan angkat panggul. Kondisikan diri santai.
j)      Hindari berteriak karena justru akan menghabiskan tenaga.
k)    Berhenti mengejan saat penolong persalinan memerintahkan berhenti, yang disebut satu periode mengejan, lamanya antara beberapa detik sampai 1 menit. Jika satu periode mengejan ini efektif, bayi akan terdorong keluar cukup jauh.
l)     Istrirahat di sela periode mengejan dengan bernapas cepat (panting), hembuskan napas pendek-pendek dari mulut. Dengarkan lagi instruksi penolong persalinan untuk periode mengejan berikutnya (biasanya saat kontraksi datang lagi). Lalu ulangi prosesnya dari awal. Proses mengejan sampai bayi lahir biasanya memakan waktu 30 menit.

9.    Kesalahan yang sering dilakukan ibu saat mengejan
a.     Berteriak
       Mungkin karena igin menyalurkan emosi dan rasa sakit, namun hal ini tidak produktif. Selain membuang tenaga akan lebih bermanfaat jika disalurkan sepenuhnya untuk mengejan. Berteriak juga akan membuat tenggorokan kering, batuk, serak, membuat suasana jadi panik dan tegang. Jika sakit tak tertahankan saat kontraksi, lemaskan otot agar relaks, tarik napas panjang dan hembuskan perlahan.

b.     Mata di tutup
Dapat mengakibatkan tekanan pada mata, sehingga pembuluh darah di selaput bola mata pecah. Akibatnya mata memerah, meski akan sembuh dalam beberapa hari. Maka buka mata saat meneran, arahkan pandangan kearah perut.

c.      Mengangkat panggul
Dapat membuat robekan perineum lebih lebar sehingga memerlukan lebih banyak jahitan.

d.     Bernapas Serabutan
Tidak ada manfaatnya dalam proses mengejan. Tarik napas yang benar justru mengurangi rasa sakit dan menjadi sumber tenaga mengejan

e.     Mengejan sebelum disarankan oleh penolong pesalinan
Sehingga pola mengejan jadi tidak teratur, tenaga terbuang percuma, dan jalan lahir membengkak karena saat mengejan terdapat cairan yang keluar dari jalan lahir. Akibat lebih jauh jika vagina mengalami pembengkakan adalah menyulitkan penjahitan. Jika sudah tak ingin lagi mengejan sementara pembukaan belum lengkap dan belum dianjurkan penolong, lakukan pernafasan pendek-pendek dan cepat.

f.       Menahan mengejan
Beberapa ibu menahan mengejan karena khawatir feses (kotoran) ikut keluar dari anus. Agar tidak terjadi kosongkan usus 24 jam sebelum persalinan(Momadmin 2011).

DAFTAR PUSTAKA


1.    Arikunto, Suharsimi 2010, Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktek, Rineka Cipta : Jakarta.

2.    Asri, Dewi H, dan P, Cristine Clervo 2010, Asuhan Persalinan Normal, Nuha Medika : Yogyakarta.

3.    Azwar, Saifuddin 2011, Sikap Manusia Teori Dan Pengukurannya, Pustaka Belajar : Yogyakarta.

4.    Bobak, Lowdermilk, dan Jensen 2005, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Penerbit Buku kedokteran EGC : Jakarta.

5.    Budiarto, Eko 2002, Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat,  EGC : Jakarta.

6.    Eniyati, dan Putri Melisa R 2012, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Pustaka Belajar : Yogyakarta.

7.    Hidayat, Aziz Alimul 2007, Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika : Jakarta.

8.    Hidayat, Aziz Alimul 2010, Metode Penelitian Kesehatan paradigma Kuantitatif, Health Books Publishing : Surabaya.

9.    Hidayat, Aziz Alimul 2012, Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data, Salemba Medika : Jakarta.

10. Kartono, 2006, Perilaku Manusia, ISBN: Jakarta

11. Manuaba, Ida Bagus Gde 2009, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

12. Maulana, Heri D.J 2009, Promosi Kesehatan, EGC : Jakarta.

13. Mubarak, Wahit Iqbal 2011, Promosi Kesehatan Untuk Kebidanan, Salemba Medika : Jakarta

14. Momadmin 2011, Mengejan, dilihat 22 februari 2013

15. Notoatmodjo, Soekidjo 2010, Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta : Jakarta.

16. Notoatmodjo, Soekidjo 2010, Metodologi Penelitian, Rineka Cipta : Jakarta.

17. Oxorn, Harry dan Forte William R 2010, Ilmu Kebidanan Patologi dan Persalinan, Yayasan Essentia Medica : Yogyakarta.

18. Prawirohardjo, Sarwono 2005, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

19. Prawirohardjo, Sarwono 2009, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.

20. Suparyanto 2011, Konsep Persalinan, dilihat 22 februari 2013 <http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/03/konsep-persalinan.html>

21. Suyanto 2011, Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan, Nuha Medika : Yogyakarta.




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar