PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Senin, 10 Maret 2014

MASALAH DEMAM BERDARAH

Dr. Suparyanto, M.Kes

MASALAH DEMAM BERDARAH



BAB I
PENDAHULUAN

1.      1 Latar Belakang
Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anak- anak. Penyakit Demam Berdarah / Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah penyakit menular yang disebabkan oleh virus “ dengue “ dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan karena masih banyak daerah yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Setiap Kejadian Luar Biasa ( KLB ) DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan pengasapan ( fogging ) secara massal, abatisa massal, serta pergerakan pemberantasan sarang nyamuk ( PSN ) yang terus - menerus. DBD adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk di daerah tropis dan subtropis dunia.
Penyakit demam berdarah dengue mempunyai perjalanan yang sangat penting dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meniggal akibat penanganan yang terlambat. Oleh karena itu kami ingin membuat makalah tentang demam berdarah dengue.

1.      2 Tujuan Makalah
Dalam makalah ini kami ingin mengetahui tentang:
1)      Definisi Demam Berdarah Dengue
2)      Etiologi Demam Berdarah Dengue
3)      Patogenesis Demam Berdarah Dengue
4)      Tanda dan Gejala Demam Berdarah Dengue
5)      Pemeriksaan Penunjang Demam Berdarah Dengue
6)      Diagnosis Banding Demam Berdarah Dengue
7)      Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue
8)      Program Peemberantasan Demam Berdarah Dengue
9)      Pencegahan Demam Berdarah Dengue
10)  Tren Isu Demam Berdarah Dengue

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.      1 Definisi Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue ( atau Dengue Haemorrhagic Fever, selanjutnya disingkat DBD ) ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama.
Penyakit Demam Berdarah / Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah penyakit menular yang disebabkan oleh virus “ dengue “ dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.

2.    2 Etiologi Demam Berdarah Dengue
Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh setelah infeksi pertama justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya. Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk.
Virus dengue dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan vektor pembawanya, yaitu nyamuk dari genus Aedes seperti Aedes aegypti betina dan Aedes albopictus. Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini. Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya. Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa monyet juga dapat terjangkit oleh virus dengue, serta dapat pula berperan sebagai sumber infeksi bagi monyet lainnya bila digigit oleh vektor nyamuk.
Tingkat risiko terjangkit penyakit demam berdarah meningkat pada seseorang yang memiliki antibodi terhadap virus dengue akibat infeksi pertama. Selain itu, risiko demam berdarah juga lebih tinggi pada wanita, seseorang yang berusia kurang dari 12 tahun, atau seseorang yang berasal dari ras Kaukasia.
Ciri- ciri nyamuk Aedes Aegypti adalah:
-          Sayap dan badannya belang- belang atau bergaris- garis putih
-          Berkembangbiak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC, tempayan, drum dan kaleng- kaleng yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung, dan lain- lain.
-          Jarak terbang ±100 m
-          Nyamuk betina bersifat “ multiple biters” ( menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk itu kenyang sudah berpindah tempat.
-          Tahan dalam suhu panas dan tinggi.
2.3  Patogenesis Demam Berdarah Dengue
Virus dengue dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai DD. Apabila orang itu mendapat nfeksi berulang oleh tipe virus dengue yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang berbeda. DBD dapat terjadi bila sesorang yang telah terinfeksi dengue pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya. Virus akan bereplikasi di nodus limfatikus regional dan menyebar ke jaringan lain, terutama ke sistem retikuloendotelial dan kulit secara bronkogen maupun hematogen. Tubuh akan membentuk kompleks virus- antibodi dalam sirkulasi darah sehingga akan mengaktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dan C5a sehingga permeabilitas dinding pembuluh darah meningkat. Akan terjadi juga agregasi trombosit yang melepaskan ADP, trombosit melepaskan vasoaktif yang bersifat meningkatkan permeabilitas kapiler dan melepaskan trombosit fakttor 3 yang merangsang koagulasi intravaskular. Terjadinya aktivasi faktor Hageman akan menyebabkan pembekuan intravaskular yang meluas dan meningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah.

2.      4 Gejala dan Tanda Demam Berdarah Dengue
Gambaran klinis amat bervariasi, dari yang ringan, sedang seperti DD, sampai ke DBD dengan manifestasi demam akut, perdarahan, serta kecenderungan terjadi renjatan yang beraakibat fatal. Masa inkubasi dengue antaara 3- 15 hari, rata- rata 5-8 hari. Pada Pasien DBD dapat terjadi gejala perdarahan pada hari ke-3 atau ke-5 berupa ptekie, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan epitaksis. Hati umumnya membesar dan terdapat nyeri tekan yang tidak sesuai dengan beratnya penyakit.  
Pasien penyakit DBD pada umumnya disertai dengan tanda- tanda berikut :              
1.      Demam akut, yang tetap tinggi selama 2- 7 hari tanpa sebab yang jelas, kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang, persendian dan kepala.
2.      Manifestasi perdarahan dengan tes Rumpel Leede ( + ), mulai dari petekie ( + ) sampai perdarahan spontan seperti mimisan, muntah darah, atau berak darah hitam.
3.      Hasil pemeriksaan trombosit menurun ( normal: 150. 000- 300.000 µL ), hematokrit meningkat ( normal: pria < 45, wanita < 40 ).
4.      Akral dingin, gelisah, tidak sadar
5.      Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikhterus
Kriteria diagnosis ( WHO, 1997 )
a.       Kriteria Klinis
1.      Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas da berlansung terus menerus selama 2- 7 hari.
2.      Terdapat manifestasi perdarahan.
3.      Pembesaran hati.
4.      Syok.
b.      Kriteria Laboratoris
1)      Trombositopenia ( < 100. 000/ mm3 ).
2)      Hemokonsentrasi ( Ht meningkat > 20 % ).
Seorang pasien dinyatakan menderita penyakit DBD bila terdapat minimal 2 gejala klinis yang positif dan 1 hasil laboratorium yang positif. Bila gejala dan tanda tersebut kurang dari ketentuan di atas maka pasien tidak dinyatakan menderita demam dengue.
Derajat beratnya DBD secara klinis dibagi sebagai berikut:
1.      Derajat I ( ringan ), terdapat demam mendadak selama 2- 7 hari disertai gejala klinis lain dengan manifestasi perdarahan teringan, yaitu uji turniket positif.
2.      Derajat II ( sedang ), ditemukan pula perdarahan kulit dan manifestasi perdarahan lain.
3.      Derajat III, ditemukan tanda- tanda dini renjatan.
4.      Derajat IV, terdapat DSS dengan nadi dan tekanan darah yang tak terukur.
Diagnosis klinis perlu disokong pemeriksaan serologi.
2.5 Pemeriksaan Penunjang Demam Berdarah Dengue
1.      Darah. Pada DBD dijumpai trombositopenia dan hemokonsentrasi. Masa pembekuan masih normal, masa perdarahan biasanya memanjang, dapat ditemukan penurunan faktor II, V, VII, IX, dan XII. Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia. SGOT, SGPT, ureum, dan pH darah mungkin meningkat, reverse alkali menurun.
2.      Air seni. Mungkin ditemukan albuminuria ringan.
3.      Sumsum tulang. Pada awal sakit biasanya hiposelular, kemudian menjadi hiperselular pada hari ke- 5 dengan gangguan maturasi dan pada hari ke- 10 sudah kembali normal untuk semua sistem.
4.      Uji serologi
a.       Uji serologi memakai serum ganda yaitu serum diambil pada masa akut dan konvalesen yaitu uji pengikatan komplemen ( PK ), uji netralisasi ( NT ), dan uji dengue blot. Pada uji ini dicari kenaikan antibodi antidengue sebanyak minimal empat kali.
b.      Uji serologi memakai serum tunggal yaitu uji dengue blot yang mengukur  antibodi antidengue tanpa memandang kelas antibodinya, uji IgM antidengue yang mengukur hanya antibodi antidengue dari kelas IgM. Pada uji ini dicari adalah ada tidaknya antibodi antidengue.
5.      Isolasi virus, yang diperiksa adalah darah pasien dan jaringan
2.6 Diagnosis Banding Demam Berdarah Dengue
1.      Adanya demam pada awal penyakit daapat dibandingkan dengan infeksi bakteri maupun virus, seperti bronkopneumonia, kolesistitis, pielonefritis, demam tifoid, malaria.
2.      Adanya ruam yang akut seperti pada morbili perlu dibedakan dengan DBD.
3.      Adanya pembesaran di hati perlu dibedakan dengan hepatitis akut dan leptospirosis.
4.      Pada meningitis dan sepsis terdapat perdarahan di kulit.
5.      Penyakit- penyakit darah seperti ITP, leukimia pada stadium lanjut, dan anemia aplastik.
6.      Renjatan endotoksik.
7.      Demam chikungunya.
2.7 Penatalaksanaan  Demam Berdarah Dengue
Penatalaksanaan DBD tanpa penyulit adalah:
1.      Tirah baring.
2.      Makanan lunak dan bila belum nafsu makan diberi minum 1, 5 liter dalam 24 jam ( susu, air dengan gula, atau sirup ) air tawar ditambah garam.
3.      Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberi kompres, sntipiretik golongan asetaminofen, eukinin, atau dipiron dan jangan diberikan asetosal karena bahaya perdarahan.
4.      Antibiotik diberikan bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi sekunder.
Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan:
1.      Pemasangan infus dan dipertahankan selama 12- 48 jam setelah renjatan diatasi.
2.      Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernafasan tiap jam, serta Hb pada Ht pada tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap 24 jam.
2. 8 Program Pemberantasan Demam Berdarah Dengue
1.      Tujuan
a.       Menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit DBD.
b.      Mencegah dan menanggulangi KLB.
c.       Meningkatkan Peran Serta Masyarakat ( PSM ) dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN ).
2.      Sasaran
Sasaran nasional ( 2000 ):
a.       Morbiditas di kecamatan endemik DBD < 2 per 10. 000 penduduk.
b.      CFR < 2, 5 %.
3.      Strategi
a.       Kewaspadaan dini
b.      Penanggulangan KLB
c.       Peningkatan ketrampilan petugas
d.      Penyuluhan
4.      Kegiatan
a.       Pelacakan penderita ( penyelidikan epidemiologi, PE ), yaitu kegiatan mendatangi rumah- rumah dari kasus yang dilaporkan ( indeks kasus ) untuk mencari penderita lain dan memeriksa angka jentik dalam radius ± 100 m dari rumah indeks.
b.      Penemuan dan pertolongan penderita, yaitu kegiatan mencari penderita lain. Jika terdapat tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan kasus termasuk merujuk ke Unit Pelayanan Kesehatan ( UPK ) terdekat.
c.       Abatisasi Selektif ( AS ) atau larvasidasi selektif, yaitu kegiatan memberikan atau menaburkan larvasida ke dalam penampungan air yang positif terdapat jentik aedes.
d.      Fogging focus ( FF) yaitu kegiatan menyemprot dengan insektisida ( malation, losban ) untuk membunuh nyamuk dewasa dalam radius 1 RW per  400 rumah per 1 dukuh.
e.       Pemeriksaan jentik berkala ( PJB ) yaitu kegiatan reguler tiga bulan sekali, dengan cara mengambil sampel 100 rumah/ desa/ kelurahan. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara random atau metode spiral ( dengan rumah di tengah sebagai pusatnya ) atau metode zig zag. Dengan kegiatan ini akan didapatkan angka kepadatan jentik atau HI ( House Index ).
f.       Pembentukan kelompok Kerja ( Pokja ) DBD di semua level administrasi, mulai dari desa, kecamatan, sampai tingkat pusat.
g.      Pergerakan PSN ( Pemberantasan Sarang Nyampuk ) dengan 3M ( menutup dan menguras tempat penampungan air bersih, mengubur barang bekas, dan membersihkan tempat yang berpotensi bagi perkembangbiakan nyamuk ) di daerah endemik dan sporadik.
h.      Penyuluhan tentang gejala awal penyakit, pencegahan, dan rujukan penderita
2.9 Pencegahan Demam Berdarah Dengue
Kegiatan ini meliputi:
a.       Pembersihan jentik
-          Program pemberantasan sarang nyamuk
-          Larvasidasi
-          Menggunakan ikan ( ikan kepala timah, cupang, sepat )
b.      Pencegahan gigitan nyamuk
-          Menggunakan kelambu
-          Menggunakan obat nyamuk ( bakar, oles )
-          Tidak melakukan kebiasaan beresiko ( tidur siang, menggantung baju )
-          Penyemprotan
2.10 Tren Isu Demam Berdarah Dengue di Masyarakat
Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan besar di Indonesia dengan angka kejadian dan kematian yang terus meningkat. Masih banyak orang yang salah memahami tentang DBD. Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus Dengue. DBD memang sering terjadi pada anak-anak, tapi sebenarnya DBD bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Selama ini DBD masih menjadi kasus yang menakutkan dan banyak orangtua yang panik bila anaknya mengalami demam tinggi. Dan ternyata banyak salah pemahaman yang beredari di masyarakat.
Ada pula yang perlu diluruskan dalam menangani dan mengobati DBD, antara lain:
- Parasetamol adalah satu-satunya obat penurun demam yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Demam Berdarah Dengue
- Pasien yang demam dan menunjukkan gejala Demam Berdarah Dengue jangan diberikan asetil salisilat (aspirin), asam mefenamat, steroid, ibuprofen. Zat kimia ini dapat berisiko menambah pendarahan pada kasus Demam Berdarah Dengue
-Tidak perlu memberikan antibiotik, karena Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus
- Pengobatan Demam Berdarah Dengue sebenarnya cukup dengan istirahat dan minum cukup air (> 5 gelas sehari)
- Susu, jus buah dan air beras tidak terlalu dianjurkan karena tidak banyak membantu. Cukup dengan banyak minum air putih saja.


BAB III
PENUTUP

3.      1 Kesimpulan
Penyakit Demam Berdarah / Demam Berdarah Dengue (DBD) ialah penyakit menular yang disebabkan oleh virus “ dengue “ dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan besar di Indonesia dengan angka kejadian dan kematian yang terus meningkat. Masih banyak orang yang salah memahami tentang DBD. Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus Dengue. DBD memang sering terjadi pada anak-anak, tapi sebenarnya DBD bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Selama ini DBD masih menjadi kasus yang menakutkan dan banyak orangtua yang panik bila anaknya mengalami demam tinggi. Dan ternyata banyak salah pemahaman yang beredari di masyarakat.
3.2  Saran
Diharapkan untuk masyarakat memahami tentang konsep demam berdarah agar tidak berlanjut dalam suatu kesenjangan persepsi selama ini tentang demam berdarah

DAFTAR PUSTAKA

1.      Widoyono, 2008. Penyakit Tropis. EMS: Jakarta
3.      Salmiyatun, 2004. Pencegahan dan Pengendalian Dengue dan Demam Berdarah. EGC: Jakarta.
4.      Setiabudi,2011.http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=203130:masalah-dbd-tanggung-jawab-bersama&catid=15:sumut&Itemid=28
5.      Arif, et al, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar