PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 13 Maret 2014

PATOFISIOLOGI SISTEM PERSEPSI SENSORI

Dr. Suparyanto, M.Kes


PATOFISIOLOGI SISTEM PERSEPSI SENSORI

SISTEM PERSEPSI SENSORI
  1. Ambliopia
  2. Strabismus
  3. Nistagmus
  4. Miopia
  5. Hiperopia
  6. Astigmatismus
  7. Butawarna
  8. Papiledema
  9. Tinitus
  10. Vertigo
  11. Hiposmia
  12. Hipogeusia
AMBLIOPIA
          Ambliopia atau mata malas adalah menurunya tajam penglihatan pada satu mata tanpa adanya kelainan organik di mata sebagai penyebab gangguan penglihatan tsb.
          Fungsi penglihatan berkembang sejak lahir sampai umur 7 tahun. Jika sampai umur 7 tahun tidak terjadi perkembangan penglihatan (karena salah penggunaan mata), maka perkembangan lebih lanjut tidak akan terjadi.
          Ambliopia adalah keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya
          Ambliopia dapat unilateral atau bilateral disebabkan karena kehilangan pengenalan bentuk, interaksi binokuler abnormal, tidak diketemukan kausa organik
          Ambliopia disebabkan kurangnya rangsangan untuk meningkatkan perkembangan penglihatan
          Kausa extraneural yang menyebabkan ambliopia adalah: katarak, astigmatismus, strabismus, kelainan refraksi unilateral atau bilateral yang tidak dikoreksi, merupakan pemicu penurunan fungsi visual
          Ambliopia yang ditemukan pada usia dibawah 6 tahun, masih dapat dilakukan latihan dan perbaikan penglihatan
          Sebab ambliopia: anisometria (penggunaan satu mata), juling, oklusi, katarak, kekeruhan media mata
          Penyebab ambliopia: supresi dan non use
          Ambliopia non use: akibat tidak dipergunakan elemen visual retino kortikal pada saat perkembangan sebelum usia 9 tahun
          Ambliopia supresi akibat proses kortikal yang menyebabkan skotoma absolut pada penglihatan binokuler
STRABISMUS
          Strabismus adalah deviasi mata manifes yang tidak terkontrol oleh penglihatan binokuler
          Pada penglihatan binokuler dipengaruhi oleh proses fusi sensoris dan stereopsis
          Fusi sensoris adalah proses tanpa dinilai ketidaksamaan diantara dua bayangan yang diterima dua mata
          Fusi sensoris terjadi jika perbedaan bayangan pada kedua mata dapat diabaikan
          Stereopsis atau persepsi kedalaman binokuler adalah pengenalan perbedaan bayangan menjadi bayangan yang serupa
          Sampai usia 7 atau 8 tahun otak dapat memproses reaksi penglihatan binokuler yang abnormal
          Perubahan sensoris pada strabismus menyebabkan: diplopia, supresi dan ambliopia
          Diplopia: adalah obyek yang sama terlihat di dua tempat (penglihatan double), terjadi jika proses fusi sensoris tidak terjadi
          Supresi: pada penglihatan binokuler, bayangan yang tampak pada salah satu mata terlihat lebih tajam (supresi). Supresi berbentuk skotoma (sebagian penglihatan di lapang pandang hilang, sedangkan penglihatan disekitar kurang normal atau normal)
          Ambliopia: tajam penglihatan abnormal yang berkepanjangan dapat menyebabkan ambliopia (tajam penglihatan menurun tanpa disertai penyakit organik)
NISTAGMUS
          Nistagmus adalah gerak bola mata kian kemari yang terdiri dua fase, yaitu fase lambat dan fase cepat.
          Fase lambat merupakan reaksi sistem vestibuler terhadap rangsangan, sedangkan fase cepat merupakan reaksi kompensasinya
          Nistagmus merupakan parameter yang akurat untuk mementukan aktivitas sistem vestibuler
          Penyebab nistagmus:
  1. Nistagmus kongenital: terdapat kelainan saraf sensoris atau motoris sejak lahir
  2. Spasmus nutans: terjadi jika salah satu mata ditutup, penyebab tidak diketahui, terjadi pada bayi umur 4 – 12 bulan
  3. Nistagmus Gangguan Neurologis: kerusakan pada batang otak (flutter ocular) dan tumor didaerah kiasma optik
  4. Nistagmus vestibular: akaibat kelainan organ keseimbangan (vestibular), berkaitan dengan vertigo, tinitus dan tuli. Juga disebabkan labirinitis, penyakit Meniere, destruksi traumatik, lesi vaskuler, peradangan dan neoplastik vestibuler, tumor dan abses serebeler.
  5. Nistagmus pandangan (Gaze Nystagmus): penyebabnya keracunan obat(fenitoin, barbiturat), penyakit demielinasi, degeneratif, neoplastik atau penyakit vaskuler
  6. Nistagmus Histeri  dan Nistagmus disengaja: umumnya terjadi pada kasus neurosis anxietas (pada kasus histeri)
MIOPIA
          Miopia adalah kelainan refraksi dimana bayangan obyek terfokus jauh didepan retina pada mata tanpa akomodasi
          Miopia disebut juga penglihatan dekat, atau rabun jauh
          Miopia diperbaiki dengan menggunakan lensa sferis cekung (minus), yang bertujuan memundurkan bayangan obyek sehingga tepat di retina
          Jika bola mata lebih panjang dari rata-rata, kelainannya disebut: miopia aksial
          Jika refraksi lebih refraktif dari rata-rata disebut: miopia kurvatura, dapat terjadi pada katarak intemesen, dimana lensa menjadi lebih cembung dan pembiasan lebih kuat, dapat juga disebabkan kornea yang terlalu cembung
HIPEROPIA/HIPERMETROPIA
          Hiperopia adalah kelainan refraksi dimana bayangan obyek terfokus jauh dibelakang retina pada mata tanpa akomodasi
          Hiperopia disebut juga penglihatan jauh, atau rabun dekat
          Hiperopia diperbaiki dengan menggunakan lensa sferis cembung (plus), yang bertujuan memajukan bayangan obyek sehingga tepat di retina
          Hiperopia sumbu: merupakan kelainan refraksi akibat sumbu bola mata pendek
          Hiperopia kurvatura: kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan bayangan difokuskan dibalakang retina
          Hiperopia refraktif: dimana terdapat indeks bias yang kurang pada sistem optik mata
ASTIGMATISMUS
          Astigmatismus adalah kelainan refraksi dimana bayangan tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina, akan tetapi pada dua garis api yang saling tegak lurus
          Astigmatismus terjadi akibat kelainan kelengkungan permukaan kornea
          Bayi baru lahir bola matanya bulat atau sferis, sehingga refraksi lebih kuat, akan lebih sferis pada usia pertengahan
          Astigmatismus dikoreksi dengan lensa silindris, untuk mengoreksi bayangan yang kabur
          Astigmatismus dapat disebabkan oleh: infeksi kornea, trauma dan distropi, atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar