PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 23 April 2013

SEKILAS TENTANG FILARIASIS

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG FILARIASIS

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia merupakan wilayah yang mempunyai iklim tropis. Di daerah iklim tropis, kemungkinan terjadinya penyakitf ilariasis atau kaki gajah lebih besar daripada di daerah yang beriklim sedang maupun dingin. Filariasis merupakan jenis penyakitr eemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidakada dansekarang muncul kembali. Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasi yaitu penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vector penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ kelamin.

Filariasis merupakan kelompok penyakit pada manusia maupun hewan yang disebabkan oleh infeksi parasit Nematoda, ordo filaridae yang biasa disebut filariae. Penyakit ini baru menimbulkan gejala setelah terpapar selama beberapa tahun, oleh sebab itu pada anak-anak jarang mengalami filariasis klinis yang bermakna.

B. Tujuan
Adapuntujuandaripenulisanmakalahiniyaitu:
1.            Untuk mengetahui factor agent penyakit filariasis
2.            Untuk mengetahui factor host penyakit filariasis
3.            Untuk mengetahui environment penyakit filariasis
4.            Untuk mengetahui port of entry and exitpenyakit filariasis
5.            Untuk mengetahui transmisi penyakit filariasis
6.            Untuk mengetahui pencegahan penyakit filariasis
7.            Pengobatan penyakit filariasis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Agent
1)    cacing filaria

2.2 Faktor Host
1)    Kondisiimunpada orang tersebutlemah.
2)    Kurangnyakebersihandiri.
3)    Orang tersebutseringbepergianketempat yang kumuh.
4)    Orang tersebuttinggalbersamaandenganbinantangpeliharaan.

2.3 Faktor Environment
1)    Kurangnyakebersihanlingkungan .
2)    TPA yang dekatdenganrumah.

2.4 Port of entry and exit
Kulit
           

2.5 Transmisi
Filariasis hanya dapat tersebar melalui vektor yang terinfeksi larva infektif. Pencegahan untuk mengurangi kontak antara manusia dan vector serta menurunkan jumlah infeksi dengan mengadakan pencegahan pada hospes (manusia).


BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pencegahan
Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena dapat menarik nyamuk, dan memberi kan obat anti-filariasis (DEC dan Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.

3.2 Pemberantasan

3.3 Pengobatan
Penggunaan obat-obat anti filarial harus disesuaikan per individu. Penderita-penderita yang lebih tua dengan obstruksi limfatik kronis dan mereka yang tinggal pada daerah endemis tidak menunjukkan adanya manfaat dari pengobatan spesifik. Pengobatan filariasis harus spesifik dan sesuai dengan mikrofilaria yang terisolasi atau anti gen dalam darah yang terdeteksi.

Diethylcarbamazine (DEC) merupakan obat pilihan baik untuk pengobatan perorangan atau masal. DEC bersifat membunuh microfilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Pengobatan perorangan ditujukan untuk menghancurkan parasit dan mengeliminasi, mengurangi, atau mencagah kesakitan.

DEC merupakan derivate piperazine. Immobilisasi microfilaria terjadi dengan menurun kan aktivitas otot akibat efek hiperpolarisasi, namun mekanisme yang tepat belum diketahui. Perubahan permukaan membrane dan peningkatan destruksi oleh didte mimun hospes juga terjadi. Bisa juga meningkatkan adhesi granulosit via mekanisme antibodi-dependent dan antibodi-independent. Diduga pula, DEC juga mengganggu proses intrasel mikrifilaria dan transport makromolekul spesifik.

Dosisdewasa: 6 mg / kg / hari dalam dosis terbagi, setelah makan, selama> 12 hari, sering dalam 3 minggu. Dosis rendah( kurang lebih 2-3 mg / kg / hari ) biasanya dianjurkan untuk 3 hari pertama pengobatan untuk menurunkan resiko efeksamping. Pada anak usia < 2 tahun tidak diberikan, tapi untuk usia lebih dari 2 tahun, dosis sama dengan orang dewasa. Kontraindikasi bila terjadi reaksi hipersensitivitas. Individu yang lebih muda dengan limfangitis akut harus diberikan DEC 50 mg pada hari I, 2 x 50 mg pada hari II, 3 x 50 mg pada hari 3 dan 10 mg / kg BB pada hari ke 4-21.
Pada pengobatan masal, pemberian DEC dosis standar tidak dianjurkan mengingat efek samping yang dapat ditimbulkan. Untuk itu DEC diberikan dengan dosis rendah dengan jangka waktu pemberian lebih lama untuk mencapai dosis total yang sama. Jika terjadi        demam, nyeri kepala atau pembengkakan sendi maka pengobatan harus dihentikan dan diberikan kortikosteroid.

Ivermectin (Mectizan, 22, 23- dihidro avermectin) merupakan derivate macrocyclic lactone dari Avermectin yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematode dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Dosis dewasa adalah 150-200 µg / kg p.o., dosis tunggal, diberikan kurang lebih 2-3 bulan sekali. Pada anak dengan usia< 5 tahun atau berat badan < 15 kg tidak dianjurkan sedangkan anak usia 5 tahun atau beratbadan > 15 kg, dosis pemberian seperti dosis dewasa. Kontraindikasi untuk penderita dengan hipersensitivitas dan penyakit berat lain yang terjadi  bersamaan, ibu hamil dan menyusui. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan daripada DEC.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari makalah yang telah kami buatdapatdisimpulkanbeberapahaldiantaranyayaitu:
1)    Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah edema, infeksi oleh sekelompok cacing nematode parasit yang tergabung dalam superfamilia Filarioidea.
2)    Penyakit kaki gajah (filariasis) ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah.
3)    Filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor)
4)    Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC dapat membunuh microfilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang.

4.2 Saran
Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis karena penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan penanganan kasus filariasis ini pula, diharapkan Indonesia mampu mewujudkan program Indonesia Sehat Tahun 2015.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar