PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 16 April 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT SARS

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT SARS

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
SARS pertama kali ditemukan di Provinsi Guang Dong, Cina pada bulan November tahun 2002 sampai bulan Februari 2003 dan dengan cepat menyebar ke negara lain yaitu Hongkong, Vietnam dan Singapura. SARS adalah sindrom pernapasan akut berat yang merupakan penyakit infeksi pada jaringan paru manusia yang penyebabnyaadalah Coronavirus (suatu “single-stranded enveloped RNA virus”).

Severe Acute respiratory syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut berat adalah sindrom akibat virus pada paru yang bersifat mendadak dan menunjukkan gejala gangguan pernapasan pada pasien yang mempunyai riwayat kontak dengan pasien SARS.

Pathogenesis dari SARS sangat komoleks, dengan berbagai faktor yang menimbulkan luka pada paru-paru dan penyebaran virus ke beberapa organ. Target coronavirus SARS adalah sel epitel pada saluran pernapasan yang menimbulkan kerusakan alveolus yang lama. Beberapa tipe organ atau sel mungkin terinfeksi menjadi sakit, termasuk mukosa sel intestinal, sel epitel tubular ginjal, saraf otak, dan beberapa jenis sel imun dan organ penting yang rusak karena kerusakan yang tidak langsung.

1.1       TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalana ini yaitu:
1)    Mengetahui faktornya agent penyakit SARS
2)    Mengetahui faktornya host penyakit SARS
3)    Mengetahui environment penyakit SARS
4)    Mengetahui port of entry and exit penyakit SARS
5)    Mengetahui transmisi penyakit SARS
6)    Mengetahui pencegahan penyakit SARS
7)    Mengetahui pemberantasan penyakit SARS
8)    Mengetahui pengobatan penyakit SARS


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) adalah penyakit pernapasan yang disebabkan virus coronavirus.  SARS pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok.  Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia. Selama beberapa bulan berikutnya, penyebaran penyakit ke lebih dari dua lusin negara di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, dan Asia. Wabah SARS global pada tahun 2003 mengatakan kemungkinan bahwa penyakit itu bisa muncul kembali. Lembar fakta ini memberikan informasi dasar tentang penyakit dan apa CDC telah dilakukan untuk mengontrol SARS di Amerika Serikat.
Coronaviruses adalah virus atau sekelompok yang halo memiliki pembongkaran mahkota (korona) muncul ketika dilihat di mikroskop bawah. Virus ini adalah penyebab umum ringan sampai sedang penyakit pernapasan atas pada manusia dan yang berhubungan dengan pernafasan, hati gastrointestinal,, dan penyakit saraf pada hewan. Coronaviruses sekali-sekali dikaitkan dengan pneumonia pada manusia, terutama orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit yang parah pada hewan, termasuk kucing, anjing, babi, tikus, dan burung. Untuk beberapa alasan, coronavirus yang menyebabkan SARS dapat menyebabkan penyakit yang berpotensi mengancam hidup pada manusia.

2.2 FAKTOR AGENT
 Para ilmuwan kian meyakini bahwa virus dari keluarga corona adalah penyebab SARS. Ilmuwan dari Hong Kong mengaku bahwa mereka telah berhasil menunjukkan dengan tepat virus corona itu setelah mengidentifikasi bagian kecil dari sampel DNA pasien yang terinfeksi SARS. Hasil riset ilmuwan Hong Kong ini didukung hasil riset Institut Pasteur di Perancis dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta, AS.

Dr Mark Salter dari WHO menyatakan, virus itu biasanya menyerang binatang, umumnya babi ( Virus ini pertama kali ditemukan oleh Twnell dari USA pada tahun 1965 dan berhasil melakukan kultur yang ditemukan pada manusia dengan gejala Commond Cold dan penyakit Infeksi saluran pernapasan bagian atas, biasanya virus ini muncul pada musim dingin dan awal musim semi, jika virus ini berasal dari Babi, maka pada manusia akan menyebabkan kelainan Gastro Enteritis, jika berasal dari ayam , pada manusia akan menyebabkan bronchitis dan jika berasal dari tikus, pada manusia akan menyebabkan Hepatitis, virus ini juga dapat ditemukan pada penderita HIV/AIDS yang menderita Diare), yang dengan berbagai cara akhirnya menyebar ke manusia.

Saat ini ilmuwan telah melampaui tahapan penemuan virus itu sehingga mereka dapat konsentrasi untuk menemukan cara mendiagnosa, mengobati dan mencegah wabah itu sehingga dokter bisa mengkonfirmasikan pada pasien yang yang terinfeksi virus mematikan itu. Hingga kini belum ada obat antivirus yang berhasil mengobati SARS atau vaksin untuk mencegahnya.

2.3 FAKTOR HOST
1)    Kondisi imun pada orang tersebut lemah
2)    Kurangnya kebersiah
3)    Factor umur, status gizi, status social ekonomi, dan perilaku.

2.4 FAKTOR ENVIRONMENT
1)    Kurangnya kebersihan lingkungan
2)    Lingkungan: fisik, biologi, social yang kurang sehat

2.5 PORT OF ENTRY AND EXIT
1)    Entry: saluran nafas
2)    Exit: saluran nafas



2.6 TRANMISI
Cara penularan penyakit melalui kontak langsung dengan penderita SARS baik karena berbicara, terkena percikan batuk atau bersin (“Droplet Infection”). Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan atau dalam satu gedung diperkirakan tidak terjadi, asal tidak kontak langsung berhadapan dengan penderita SARS. Masa penularan dari orang ke orang belum teridentifikasi dengan jelas. Untuk sementara, masa menular adalah mulai saat terdapat demam atau tanda-tanda gangguan pernafasan hingga penyakitnya dinyatakan sembuh. Periode aman dari kemungkinan terjadinya penularan pada unit pelayanan atau pada kelompok masyarakat yang terjangkit KLB SARS adalah setelah lebih dari 14 hari sejak kasus terakhir dinyatakan sembuh.


BAB III PEMBAHASAN

3.1 PENCEGAHAN
1)    Pengobatan para penderita SARS biasanya dilakukan dengan perawatan intensif di rumah sakit, terutama jika terjadi sesak napas. Penderita akan ditempatkan di ruang isolasi agar tidak menyebarkan virus ke mana-mana. Obat yang dipakai biasanya adalah obat yang mengandung kortikosoid dan antivirus ribavirin. Walaupun demikian, obat ini belum 100% efektif mengobati SARS. Dan sampai saat ini belum ada satu pun obat yang efektif dalam mengobati SARS.
2)    Hindarilah bepergian atau naik kendaraan umum namun jika terpaksa maka jangan menutup jendela atau pintu
3)    Hindarilah tempat-tempat umum dan ramai khususnya di daerah dekat rumah sakit, internet cafe, tempat-tempat nongkrong, bioskop, dan perpustakaan, jika kamu melakukannya maka pakailah masker dan cucilah tangan anda secara bersih dan teratur.
4)    Hindarilah mengunjungi pasien dan periksa ke dokter di rumah sakit khususnya yang ada pasien SARSnya.
5)    Ajarilah anak-anak untuk cuci tangan dengan sabun dan jangan menyentuh mulut, hidung, dan mata dengan tangan telanjang
6)    Jagalah keseimbangan gizi diet Anda dan hendalah berolahraga secara teratur untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita
7)    Anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya melemah harus memakai masker sepanjang waktu untuk menhindari menyebarnya cairan tubuh seperti ludah/air liur
8)    Periksalah suhu badan Anda secara teratur dan tetaplah hati-hati dengan kondisi kesehatan Anda


3.2 PEMBERANTASAN
Untuk meredam kekhawatiran masyarakat dunia terhadap wabah SARS, WHO secara resmi telah mengeluarkan panduan mengenai gejala-gejala penderita SARS.
1)    Demam lebih dari 38°C.
2)    Mengalami gangguan pernafasan seperti batuk (biasanya batuk kering tanpa dahak), nafas pendek, sesak nafas atau sulit bernafas.
3)    Sakit kepala.
4)    Otot kaku.
5)    Nafsu makan hilang.
6)    Badan lemah.
7)    Mengalami gangguan kesadaran.
8)    Muncul bercak merah pada kulit.
9)    Diare.
10) Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, melakukan perjalanan ke tempat yang ditengarai telah terjangkit wabah SARS.
11) Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, memiliki riwayat pernah melakukan kontak langsung dengan orang yang sudah didiagnosis mengidap SARS

3.3 PENGOBATAN/PENATALAKSANAAN
Antibiotik masih belum efektif. Pengobatan SARS hingga kini masih bergantung pada anti-pyretic, supplemen oksigen dan bantuan ventilasi. Kasus SARS yang mencurigakan harus diisolasi, lebih baiknya di ruangan tekanan negatif, dengan kostum pengaman lengkap untuk segala kontak apapun dengan pasien. Awalnya ada dukungan anekdotal untuk penggunaan steroid dan antiviral drug ribavirin, namun tidak ada bukti yang mendukung terapi ini.

Sekarang banyak juru klinik yang mencurigai ribavirin tidak baik bagi kesehatan. Ilmuwan kini sedang mencoba segala obat antiviral untuk penyakit lain seperti AIDS, hepatitis, influenza dan lainnya pada coronavirus. Ada keuntungan dari penggunaan steroid dan immune system modulating agent lainnya pada pengobatan pasien SARS yang parah karena beberapa bukti menunjukkan sebagian dari kerusakan serius yang disebabkan SARS disebabkan oleh reaksi yang berlebihan oleh sistem kekebalan tubuh terhadap virus. Penelitian masih berlanjut pada area ini. Pada Desember 2004, laporan menyebutkan para peneliti Tiongkok telah menemukan sebuah vaksin SARS yang telah diujicoba pada 36 sukarelawan, 24 diantaranya menghasilkan antibodi virus SARS.


BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Penyakit SARS dan Penyebabnya disertai Gejalanya) – SARS (Severe Acute Respiratoty Syndrome) adalah suatu jenis penyakit pernapasan akibat virus yang pertama kali terjadi di beberapa negara Asia. Penyakit ini kemudian menyebar ke Amerika dan Eropa. Virusnya bernama SARS-CoV (SARS Coronavirus) yang menyerang saluran pernapasan bagian atas. Para ahli percaya, SARS pertama kali berkembang di dalam tubuh binatang. Hal ini berdasarkan temuan mereka akan virus yang sama di dalam tubuh musang. Musang ini di Cina dikonsumsi sebagai makanan saat keadaan terdesak.
           
4.2 SARAN
Untuk pembuatan makalah ini saya menyadari masih banyak kekurangan, saya berharap bagi pembaca untuk saran dan kritiknya guna untuk menyempurnakan makalah ini. Terima  kasih

REFERENSI

1)    http://balisos.com/SARS/depkes.id.html
2)    http://www.kamusilmiah.com/kesehatan/coronavirus-dan-penyakit-sars/
3)    http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/148_09ApakahSARSBerjangkit.pdf/148_09ApakahSARSBerjangkit.html
4)    http://tavoi.myweb.hinet.net/activity/SARS/in.htm
5)    http://www.cdc.gov/ncidod/SARS/
6)    http://www.who.int/csr/sars/en/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar