PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 23 April 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIFTERI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIFTERI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang
Difterimerupakansalahsatupenyakit yang sangat menular (contagious disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil, Nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda. Penyakit ini juga dijumpai pada daerah padat penduduk tingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.

Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit difteri jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1)    Untuk mengetahui factor agent penyakit Difteri.
2)    Untuk mengetahui factor host penyakit difteri.
3)    Untuk mengetahui environment penyakit difteri.
4)    Untuk mengetahui port of entry and exit penyakit difteri.
5)    Untuk mengetahui transmisi penyakit difteri.
6)    Untuk mengetahui pencegahan penyakit difteri.
7)    Pengobatan penyakit difteri.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor Agent
Kuman coryne bacterium diphtheria

2.2 Faktor Host
1)            Kondisi imun pada orang tersebut lemah.
2)            Kurangnya kebersihan diri.
3)            Orang tersebut sering bepergian ketempat yang kumuh atau ketempat ada penderita penyakit difteri.
4)            Faktor umur, status gizi, status social ekonomi, dan perilaku.

2.3 Faktor Environment
1)    Kurangnya kebersihan lingkungan
2)    TPA yang dekat dengan rumah.
3)    PHBS yang kurang.

2.4 Port of Entry and Exit
1)            Port of Entry: mulut
2)            Port of Exit: mulut

2.5 Transmisi
Penularan umumnya melalui udara, berupa infeksi droplet selain itu dapat pula melalui benda atau makanan yang terkontaminasi serta dapat tertular melalui mahluk hidup a tau vector.


BAB III PEMBAHASAN

3.1Pencegahan
a. Isolasi
Penderita penderita difteri harus diisolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat coryne bacterium diphtheria 2 kali berturut-turut.

b.Imunisasi
imunisasi dasar di mulai pada umur 3 bulan di lakukan 3 kali berturut-turut dengan selang waktu 1 bulan. biasanya di berikan bersama-sama toksoid tetanus dan basil B. pertusis yang telah di matikan sehingga di sebut tripel vaksin DTP dan diberikan dengan dosis 0,5 ml subcutan atau intramuskular . vaksinasi ulang dilakukan 1 tahun sesudah suntikan terakhir dari imunisasi dasar atau kira-kira umur 1 ½ -2 tahun dan pada umur 5 tahun. Selanjutnya setiap 5 tahun sampai dengan usia 15 tahun hanya di berikan vaksin difteri dan tetanus (vaksin DT) atau apabila ada kontak dengan penderita difteri.

c. Pencarian dan  kemudianmengobati karier difteri .
dilkukan dengan ujis chick, yaitu bila hasil negatif (mungkin penderita karier atau pernah mendapat imunisasi) maka harus dilakukan hapusan tenggorok. Jika ternyata ditemukan coryne bacterium diphtheria, penderita harus diobati dan bila perlu dilakukan tonsilektomi.

3.2 Pemberantasan
Imunisasi rutin.
Kegiatan imunisasi yang secara rutin dan terus menerus harus dilakukan pada periode waktu yang telah ditentukan.

Imunisasi tambahan.
Kegiatan imunisasi yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi.

Backlog fighting.
Upaya melengkapi imunisasi dasar pada anak yang berumur 1-3 tahun.

3.3Pengobatan
a.  Pengobatan umum
terdiri dari perawatan yang baik, mutlak ditempat tidur, isolasi penderita dari pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG setiap minggu.

b.  Pengobatanspesifik
1. Anti diphtheria serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000 U/hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata. Bila ternyata penderita peka terhadap serum tersebut, maka harus dilakukan desensitisasi dengan cara besredka.

2. Antibiotika. Dibagian ilmu kesehatan anak FKUI-RSCM Jakarta diberikan penisilin prokain 50.000 U/kg bb/hari sampai 3 hari bebas panas. Pada penderita yang dilkukan trakeaostomi, ditambahkan kloramfenikol 75 mg/ kg bb/ hari, dibagi 4 dosis.

3.Kortikostiroid.
Obat ini di maksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan prednison 2 mg/ kg bb/ hari, selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap.


BAB III PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Difteria adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman coryne bacterium diphtheria. Mudah menular dan yang diserang terutama traktus respiratorius bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal.
Tanda dan gejalanya adalah demam yang tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia, lemah, nyeri telan, sesak napas,serak hingga adanya stridor.

4.2 Saran
Untuk pembuatan makalah ini saya menyadari masih banyak kekurangan saya berharap bagi pembacanya untuk mengkritik guna untuk menyempurnakan makalah ini. terimakasih

DAFTAR PUSTAKA

a.    FKUI, 1985, Ilmu kesehatan anak, Jakarta; Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.
b.    Dr. TH. Rampengan, DSAK dan Dr, I.R. Laurentz, DSA. 1993. Penyakit infeksi tropic pada anak. jakarta: EGC.
c.    A. Aziz Alimul Hidayat. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
d.    Doenges, Marilynn E dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta; EGC
e.    Berham dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson volume: 2.J akarta; EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar