PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 07 April 2013

SEKILAS TENTANG PAROTITIS (GONDONGEN)

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PAROTITIS (GONDONGEN)

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Parotitis merupakan penyakit infeksi yang pada 30-40 % kasusnya merupakan infeksi asimptomatik.  Infeksi ini disebabkan oleh virus RNA untai tunggal negative sense berukuran 100-600 nm, dengan panjang 15000 nukleotida termasuk dalam genus Rubulavirus subfamily paramyxsovirinae dan family paramyxoviridae.

Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan mentah mungkin dengan urin. Sekarang penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa muda sehingga menimbulkan epidemi secara umum. Pada umumnya parotitis epidemika dianggap kurang menular jika dibanding dengan morbili atau varicela, karena banyak infeksi parotitis epidemika cenderung tidak jelas secara klinis.

Dalam perjalanannya parotitis epidemika dapat menimbulkan komplikasi walaupun jarang terjadi. Komplikasi yang terjadi dapat berupa: Meningoencepalitis, artritis, pancreatitis, miokarditis, ooporitis, orchitis, mastitis, dan ketulian.

Insidensi parototis epidemika dengan ketulian adalah 1 : 15.000. Meningitis yang terjadi berupa Meningitis aseptik. Insidensi atau komplikasi dari parotitis Meningoencephalitis sekitar 250/100.000 kasus. Sekitar 10% dari kasus ini penderitanya berumur kurang dari 20 tahun. Angka rata-tata kematian akibat parotitis Meningoencephalitis adalah 2%. Kelainan pada mata akibat komplikasi parotitis dapat berupa neutitis opticus, dacryoadenitis, uveokeratitis, scleritis dan trombosis vena central retina. Gangguan pendengaran akibat parotitis epidemika biasanya unilateral, namun dapat pula bilateral. Gangguan ini seringkali bersifat permanen.

Parotitis yang tidak ditangani dengan tepat dan segera dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang akan menambah resiko terjadinya kematian. Maka disebabkan hal tersebut, melalui makalah ini kami memberikan solusi dapat memberikan pengetahuan dan tata cara pencegahan dari penyakit parotitis sehingga skala kejadian penyakit tersebut dapat menurun.

2. Tujuan
2.1  Tujuan Umum
Mengetahui tanda gejala beserta penularan yang terjadi pada seseorang dengan gangguan saliva parotitis.

2.1  Tujuan Khusus
1.    Mengetahui dan menambah pengetahuan tentang penyakit parotitis
2.    Mengetahui faktor agent dan faktor host dari penyakit parotitis
3.    Mengetahui manifestasi klinis dari parotitis
4.    Mengetahui penatalaksanaan dari parotitis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Faktor Agent
Agen penyebab parotitis epidemika adalah anggota dari kelompok paramyxovirus, yang juga termasuk didalamnya virus parainfluenza, measles, dan virus newcastle disease.  Ukuran dari partikel paramyxovirus sebesar 90 – 300 mµ.  Virus telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Mumps merupakan virus RNA rantai tunggal genusRubulavirus subfamily Paramyxovirinae dan family Paramyxoviridae. Virus mumps mempunyai 2 glikoprotein yaitu hamaglutinin-neuramidase dan perpaduan protein. Virus ini juga memiliki dua komponen yang sanggup memfiksasi, yaitu : antigen S atau yang dapat larut (soluble) yang berasal dari nukleokapsid dan antigen V yang berasal dari hemaglutinin permukaan.

Virus ini aktif dalam lingkungan yang kering tapi virus ini hanya dapat bertahan selama 4 hari pada suhu ruangan.  Paramyxovirus dapat hancur pada suhu <4 12-25="" 3-5="" 30="" adalah="" atas="" atau="" bereplikasi="" berlangsung="" cahaya="" choroideus="" dalam="" dan="" detik.="" diikuti="" dituju="" eter="" formalin="" ginjal="" hari.="" hari="" hidung="" infeksi="" inkubasi="" jantung="" kalenjar="" ke="" kemudian="" lewat="" limfa="" local="" lokasi="" masa="" masuk="" melalui="" menyebar="" mononuclear.="" mukosa="" mulut.virus="" napas="" oleh="" otak.="" ovarium="" pada="" pancreas="" parotis="" pemaparan="" plexus="" pusat="" saluran="" saraf="" sel="" selama="" selanjutnya="" serta="" setelah="" span="" system="" tiroid="" tubuh="" ultraviolet="" umum="" viremia="" virus="" yang="">

Masa penyebaran virus ini adalah 2-3 minggu melalui dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Virus dapat diisolasi dari saliva 6-7 hari sebelum onset penyakit dan 9 hari sesudah munculnya pembengkakan pada kalenjar ludah. Penularan terjadi 24 jam sebelum pembengkakan kalenjar ludah dan 3 hari setelah pembengkakan menghilang.

Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical).

2. Faktor Host
Adapun faktor host yang mempengaruhi timbulnya penyakit gondongan (parotitis) adalah manusia yang berperilaku hidup kurang bersih dan kurang sehat serta tidak menggunakan pelindung ataupun masker ketika kontak dengan penderita gondong.

3. Faktor Environment
Adapun faktor environment yang mempengaruhi timbulnya penyakit gondongan salah satunya adalah lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Karena secara logika lingkungan yang kotor banyk menyimpan banyak bibit penyakit. Penyakit itulahh yang menyebabkan gangguan kesehatan siap menyerang tubuh manusia. Menjaga kebersihan lingkungan pun menjadi satu-satunya upaya yang bisa ditempuh.

4. Port of entry and exit
Jika Anda memiliki gondok, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu mencegah penyebaran virus kepada orang lain:
1.    Minimalkan kontak dekat dengan orang lain, terutama bayi dan orang dengan sistem kekebalan yang lemah yang tidak dapat divaksinasi.
2.    Tinggal di rumah dari kerja atau sekolah selama 5 hari setelah kelenjar Anda mulai membengkak, dan cobalah untuk tidak memiliki kontak dekat dengan orang lain yang tinggal di rumah Anda.
3.    Tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika Anda batuk atau bersin, dan menempatkan jaringan Anda digunakan dalam tempat sampah. Jika Anda tidak memiliki jaringan, batuk atau bersin ke lengan atas atau siku Anda, bukan tangan Anda.
4.    Cuci tangan dengan baik dan sering dengan sabun, dan mengajarkan anak-anak untuk mencuci tangan mereka juga.
5.    Jangan berbagi minuman atau peralatan makan.
6.    Secara teratur membersihkan permukaan yang sering disentuh (seperti mainan, pegangan pintu, meja, counter) dengan sabun dan air atau dengan tisu pembersih.

Pada umumnya penyebaran paramyxovirus sebagai agent penyebab parotitis (terinfeksinya kelenjar parotis) antara lain akibat:
1.    Percikan ludah
2.    Kontak langsung dengan penderita parotitis lain
3.    Muntahan
4.    Urine

Virus tersebut masuk tubuh bisa melalui hidung atau mulut. Biasanya kelenjar yang terkena adalah kelenjar parotis. Infeksi akut oleh virus mumps pada kelenjar parotis dibuktikan dengan adanya kenaikan titer IgM dan IgG secara bermakna dari serum akut dan serum konvalesens. Semakin banyak penumpukan virus di dalam tubuh sehingga terjadi proliferasi di parotis/epitel traktus respiratorius kemudian terjadi viremia (ikurnya virus ke dalam aliran darah) dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar/saraf yang kemudian akan menginfeksi glandula parotid. Keadaan ini disebut parotitis.

Akibat terinfeksinya kelenjar parotis maka dalam 1-2 hari akan terjadi demam, anoreksia, sakit kepala dan nyeri otot (Mansjoer, 2000).  Kemudian dalam 3 hari terjadilah pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral kemudian bilateral, disertai nyeri rahang spontan dan sulit menelan. Pada manusia selama fase akut, virus mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Pada pankreas kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.

5. Transmisi
Gondong disebarkan oleh tetesan air liur atau lendir dari mulut, hidung, atau tenggorokan dari orang yang terinfeksi, biasanya ketika seseorang batuk, bersin atau berbicara. Item yang digunakan oleh orang yang terinfeksi, seperti cangkir atau kaleng minuman ringan, juga dapat terkontaminasi dengan virus, yang dapat menyebar ke orang lain jika mereka butir dibagi. Selain itu, virus dapat menyebar ketika seseorang dengan item gondok menyentuh atau permukaan tanpa mencuci tangan mereka dan orang lain kemudian menyentuh permukaan yang sama dan menggosok mulut atau hidung.
                       
Kebanyakan gondok transmisi kemungkinan terjadi sebelum kelenjar ludah mulai membengkak dan dalam waktu 5 hari setelah pembengkakan dimulai. Oleh karena itu, CDC merekomendasikan mengisolasi pasien gondok selama 5 hari setelah kelenjar mereka mulai membengkak.

BAB III PEMBAHASAN

1. Pencegahan
Pencegahan terhadap parotitis epidemika dapat dilakukan secara imunisasi pasif dan imunisasi aktif.
1. Pasif
Gamma globulin parotitis tidak efektif dalam mencegah parotitis atau mengurangi komplikasi.
2. Aktif
Dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan virus parotitis epidemika yang hidup tapi telah dirubah sifatnya (Mumpsvax-merck, sharp and dohme) atau diberikan subkutan pada anak berumur 15 bulan.  Vaksin ini tidak menyebabkan panas atau reaksi lain dan tidak menyebabkan ekskresi virus dan tidak menular.  Menyebabkan imunitas yang lama dan dapat diberikan bersama vaksin campak dan rubella (MMR yakni vaksin Mumps, Morbili, Rubella). Pemberian vaksinasi dengan virus “mumps”, sangat efektif dalam menimbulkan peningkatan bermakna dalam antibodi “mumps” pada individu yang seronegatif sebelum vaksinasi dan telah memberikan proteksi 15 sampai 95 %.  Proteksi yang baik sekurang-kurangnya selama 12 tahun dan tidak mengganggu vaksin terhadap morbili, rubella, dan poliomielitis atau vaksinasi variola yang diberikan serentak.

Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang belum menderita Gondong. Pemberian imunisasi ini tidak menimbulkan efek apanas atau gejala lainnya. Cukup mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar Iodium, dapat mengurangi resiko terkena serangan penyakit gondongan.

Kontraindikasi: Bayi dibawah usia 1 tahun karena efek antibodi maternal; Individu dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponen vaksin;  demam akut; selama kehamilan; leukimia dan keganasan; limfoma;  sedang diberi obat-obat imunosupresif, alkilasi dan anti metabolit; sedang mendapat radiasi.

Belum diketahui apakah vaksin akan mencegah infeksi bila diberikan setelah pemaparan, tetapi tidak ada kontraindikasi bagi penggunaan vaksin “Mumps” dalam situasi ini

2. Pemberantasan
A. Cara pencegahan
1. Berikan peyuluhan kepada masyarakat, anjurkan masyarakat untuk mengimunisasikan anak-anak mereka yang berusia di atas 1 tahun yang lahir pada tahun 1957 atau setelah itu.

2. Vaksin yang dibuat dari virus mumps yang telah dilemahkan dengan menggunakan strain virus jeryl lynn sudah beredar ke AS sejak tahun 1967 sebagai vaksin tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lain (MMR). Timbulnya reaksi samping yang berat setelah pemberian imunisasi tergantung dari jenis virus yang dipakai untuk membuat vaksin pada salah satu uji coba yang dilakukan.

Insidensi timbulnya demam pada mereka yang imunisasi di bandingkan dengan mereka yang diberikan sama besar. Pemberian imunisasi kepada orang yang sudah kebal karena infeksi infeksi alamiah tidak meningkatkan resiko timbulnya efek samping paska imunisasi lebih dari 95% mereka yang diimunisasi kemungkinan kebal seumur hidup.
Vaksin mumps dapat diberikan kapan saja setelah usia I tahun, dalam bentuk MMR diberikan pada usia 12-18 bulan. Dosis pertamadiberikan pada usia 12 bulan., dosis ke dua dianjurkan untuk diberikan pada 4-5 tahun. Namun pada saat dilakukan upaya akseleraasi jadwal imunisasi MMR dan pada saatdilakukan upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi maka dosis ke dua diberikan 1 bulan setelah dosis pertama. Upaya khusus perlu dilakukan untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak yang tidak jelas status imunisasinya sebelum mereka mencapai usia akil baliq, dan wanita yang sedang hamil/wanita yang merencanakan hamil 3 bulan lagi. Tidak dianjurkan untuk diberikan munisasi mumps dengan alas an teoritis dikhawatirkan akan terjadi kelainan pada bayi mereka, walaupun secara praktis hal ini tidak pernah terjadi.

B. Penanganan penderita, kontak, dan lingkungan. Adapun penanganannya antara lain
1.    Laporan kepada instansi kesehatan setempat; laporan bersifat selektif
2.    Isolasi : lakukan isolasi terhadap saluran pernafasan dan sediakan ruangan khusus selama 9 hari setelah timbulnya parotitis apabila disekitar mereka banyak orang yang rentan (tidak di imunisasi)
3.    Disinfeksi serentak: lakukan disinfeksi terhadap semua barang-barang yang tercemar oleh secret hidung dan tenggorokan.
4.    Karantina : liburkan mereka yang rentan dan yang pernah terpajang, dengan penderita dari sekolah/pekerja selama 12-25 hari setelah terpenjan apabila dilingkukan sekolah/pekerjaan mereka banyak anak atau orang yang rentan.
5.    Imunisasi kontak : walaupun pemberian imunisasi setelah seseorang tanpa ajan tidak melindungi mereka untuk menjadi sakit. Namun terhadap kontak yang telah diimunisasi yang kemudian tidak sakit maka pemberian  imunisasi ini akan melindungi mereka terhadap infeksi berikutnya. Pemberian imunisasi globulin tidak efektif dan tidak dianjurkan.
6.    Investigasi terhadap kontak dan sumber penularan infeksi : cari orang-orang yang terentan dan kepada mereka yang harus diimunisasi.

3. Pengobatan / Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan kelenjar (parotis) membengkak. Dapat digunakan obat pereda panas dan nyeri (antipiretik dan analgesik) misalnya Parasetamol dan sejenisnya, Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye (Pengaruh aspirin pada anak-anak).

Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat tirah baring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres Es pada area testis yang membengkak tersebut. Sedangkan penderita yang mengalami serangan virus apada organ pancreas (pankreatitis), dimana menimbulkan gejala mual dan muntah sebaiknya diberikan cairan melalui infus.

Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis. Terhadap virus itu sendiri tidak dapat dipengaruhi oleh anti mikroba, sehingga Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya.

Penyakit gondongan sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" (penyakit yg sembuh sendiri tanpa diobati). Penderita penyakit gondongan sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, diberikan diet makanan cair dan lunak.

Jika pada jaman dahulu penderita gondongan diberikan blau (warna biru untuk mencuci pakaian), sebenarnya itu secara klinis tidak ada hubungannya. Kemungkinan besar hanya agar anak yang terkena penyakit Gondongan ini malu jika main keluar dengan wajah belepotan blau, sehingga harapannya anak tersebut istirahat dirumah yang cukup untuk membantu proses kesembuhan.

BAB IV PENUTUP

1. Kesimpulan
Pembengkakan akut pada kelenjar saliva dapat berupa parotitis dan sialadenitis. Penyakit parotitis yang lebih awam disebut gondongan (mumps) merupakan suatu penyakit menular dimana seseorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah. Gejala yang ditimbulkan berupa pembengkakan, rasa sakit, kemerahan, dan kelembutan pada saluran kelenjar ludah, namun juga terjadi kelainan berupa pelebaran dan penyumbatan saluran. Gangguan parotitis cenderung menyerang anak-anak  dibawah usia 15 tahun (sekitar 85% kasus). Dahulu keadaan ini sering terlihat pada pasien yang mendapat perawatan dari operasi abdomen, tetapi sekarang khasus ini telah jarang terlihat, hanya kadang-kadang terlihat pada parotitis kronis rekuren, tetapi tidak sesering yang diperkirakan.

2. Saran
Saran yang saya dapat sampaikan, yaitu untuk selalu berperilaku hidup bersih dan sehat. Tidak hanya sehat secara pribadi tetapi untuk lingkungan sekitar juga. Karena dengan hidup bersih dan sehat maka dapat meminimalisir berbagai penyakit yang akan menyerang manusia, baik yang menular maupun tidak menular. Kemudian untuk yang telah terinfeksi penyakit terutama penyakit menular agar tidak kontak secara langsung dengan orang yang masih sehat dan segera mengobati penyakitnya agar cepat sembuh sehingga dapat mengurangi angka penularan penyakit tersebut. Ingat salah satu pesan “pencegahan lebih baik dari pada pengobatan”.

REFERENSI

1.    http://www. epidemiologiunsri.blogspot.com
2.    http://www.anneahira.com/penyakit.htm
3.    http://www.mumps.cdc
4.    http://www.ketobapadah.blogspot.com/2011/05/mumps-virus-parotitis-epidemika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar