PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 23 April 2013

KONSEP POSISI PERSALINAN

Dr. Suparyanto, M.Kes


KONSEP POSISI PERSALINAN

Tak ada posisi melahirkan yang paling baik. Posisi yang dirasakan paling nyaman oleh si ibu adalah hal yang terbaik. Namun umumnya, ketika melahirkan dokter akan meminta ibu untuk berbaring atau setengah duduk. Namun pada saat proses melahirkan berlangsung, tidak menutup kemungkinan dokter akan meminta ibu mengubah posisi agar persalinan berjalan lancar. Misalnya, pada awal persalinan ibu diminta berbaring, namun karena proses kelahiran berjalan lamban maka dokter menganjurkan agar ibu mengubah posisinya menjadi miring (Revina Pevi, 2010).
      
Ada 4 posisi melahirkan. Masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan sendiri yaitu :

a. Posisi Berbaring
       Berbaring terlerlentang datar pada punggungnya atau dengan tubuh diangkat sedikit (kurang dari 45°). Kedua kakinya tidak lurus, ditekuk dengan telapak kaki di tempat tidur (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Dokter bisa lebih leluasa membantu proses persalinan. Jalan lahir pun menghadap ke depan, sehingga dokter dapat lebih mudah mengukur perkembangan pembukaan dan waktu persalinan pun bisa diprediksi secara lebih akurat.
2.    Kepala bayi lebih mudah dipegang dan diarahkan, sehingga apabila terjadi perubahan posisi kepala bayi, maka dokter langsung bisa mengarahkan pada posisi yang seharusnya (Revina Pevi, 2010).
Kelemahan:
1.    Posisi berbaring membuat ibu sulit untuk mengejan. Hal ini karena gaya berat tubuh ibu yang berada di bawah dan sejajar dengan posisi bayi.
2.    Posisi ini pun diduga bisa mengakibatkan perineum ( daerah di antara anus dan vagina ) meregang sedemikian rupa sehingga akan terjadi  ruptur perinium.
3.    Menempatkan janin pada suatu sudut dorong yang tidak menguntungkan dalam berhubungan dengan panggul sehingga dapat mengakibatkan persalinan berjalan lama (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
4.    Pengiriman oksigen melalui darah yang mengalir dari si ibu ke janin melalui plasenta pun jadi relatif berkurang. Hal ini karena letak pembuluh besar berada di bawah posisi bayi dan tertekan oleh massa/berat badan bayi. Apalagi jika letak ari-ari juga berada di bawah si bayi. Akibatnya, tekanan pada pembuluh darah bisa meninggi dan menimbulkan perlambatan peredaran darah balik ibu (Revina Pevi, 2010).

b. Posisi Miring atau Lateral
       Ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan dengan salah satu kaki diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi ini umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat (Revina Pevi, 2010).
       Ibu berbaring miring dengan kedua pinggul dan lutut dalam keadaan fleksi  dan ditempatkansebuah bantal, atau kaki atasnya diangkat dan disokong (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Selain peredaran darah balik ibu ke janin mengalir lancar, pengiriman oksigen dalam darah dari ibu ke janin melalui plasenta juga tidak terganggu. Sehingga proses pembukaan akan berlangsung secara perlahan-lahan sehingga persalinan berlangsung lebih nyaman (Revina Pevi, 2010).
2.    Menghindarkan tekanan terhadap tulang sakrum (berbeda dengan posisi duduk atau terlentang).
3.    Dapat mengatasi masalah detak jantung janin, jika berkaitan dengan terjadinya kompresi tali pusat (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
Kelemahan:
1.    Posisi miring ini menyulitkan dokter untuk membantu proses persalinan karena letal kepala bayi susah dimonitor, dipegang, maupun diarahkan.
2.    Mengalami kesulitan saat melakukan tindakan episiotomy (Revina Pevi, 2010).

c. Posisi Jongkok
Merendahkan tubuhnya dari posisi berdiri ke jongkok dengan kedua kaki datar di lantai atau tempat tidur, biasanya ibu berjongkok di atas bantalan empuk yang berguna menahan kepala dan tubuh bayi (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

Kelebihan:
1.    Merupakan posisi melahirkan yang alami karena memanfaatkan gaya gravitasi bumi  (Revina Pevi, 2010).
2.    Posisi ini dapat membantu mempercepat kemajuan persalinan kala II dan mengurangi rasa nyeri yang hebat (Asri dan Clervo,  2010).
3.    Memperluas pintu bawah panggul dengan menambah diameter intertuberositas.
4.    Membutuhkan usaha mengejan yang lebih sedikit dibandingkan dengan posisi horisontal (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).
Kekurangan:
1.    Selain berpeluang membuat cedera kepala bayi, posisi ini dinilai kurang menguntungkan karena menyulitkan pemantauan perkembangan pembukaan dan tindakan-tindakan persalinan lainnya, semisal episiotomy (Revina Pevi, 2010).
2.    Jika dilanjutkan dalam waktu lama,posisi ini akan menekan pembuluh darah dan serat-serat saraf dibelakang sendi lutut,mengganggu sirkulasi dan mungkin akan menyebabkan neoropi akibat terjepit (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

d. Posisi Setengah Duduk
       Pada posisi ini, ibu duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping (Revina Pevi, 2010).
Posisi duduk dengan tubuh membentuk sudut >45° terhadap tempat tidur (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).

       Posisikan si Ibu dengan bantal di punggungnya, atau minta suami untuk duduk membelakangi si Ibu. Pada waktu kontraksi, bungkukkan badan ke depan atau tarik kaki ke atas (Redoren, 2008).
 
Kelebihannya:
1.    Sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh janin untuk bisa keluar jadi lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin pun juga dapat berlangsung secara maksimal (Revina Pevi, 2010).
2.    Posisi ini seringkali nyaman bagi ibu dan ia bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi jika merasa lelah (Hidayat Asri dan Sujiatini, 2010).

Kelemahan:
1.    Posisi dapat menimbulkan rasa lelah dan keluhan punggung pegal. Apalagi jika proses persalinan tersebut berlangsung lama (Revina Pevi, 2010).
2.    Tekanan pada tulang sakrum dan koksigis dapat mengganggu gerakan sandi panggul (Simkin Penny dan Ancheta Ruth, 2005).


DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H.Aziz. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Asri, Dwi dan Clervo, Cristine. 2010. Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta: Nuha Medika.
Gupta, J.K., & Nikdem, V.C. (2003). Position for women during second stage of labor. In The Cochrane Review issue 2.www.lamaze.org diakses pada 10 April 2012.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan, dan Keluarga berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mochtar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Mubarak, W Iqbal. 2011. Promosi Kesehatan Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka cipta.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Edisi III. Jakarta: Salemba Medika.
Revina, pevi. 2010. www.bidanku.com. Di akses pada 13 april 2012.
Setiadi. 2007. Konsep & Penulisan, Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Simkin, Penny dan Ancheta Ruth. 2005. Buka Saku Persalinan. Jakarta: ECG.
Sofyan, Mustika. 2008. 50 Tahun Ikatan Bidan Indosesia Bidan Menyongsong masa Depan. Jakarta: PP IBI.
Supriatmaja. Hasil Penelitian Pengaruh Senam Hamil . (http:www. Kalbe. Co.id. ), diakses pada 13 April 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar