PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 11 November 2012

APA ITU MOTIVASI

Dr. Suparyanto, M.Kes


APA ITU MOTIVASI

1.    Pengertian motivasi
Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar maupun tidak sadar melakukan tindakan dengan tujuan tertentu atau usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang di kehendaki (Poerwodarminto, 2007).

Motivasi itu mempunyai arti dorongan, berasal dari bahasa latin movere yang berarti mendorong atau menggerakkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berperilaku beraktifitas dalam pencapaian tujuan (Widayatun, 2009).

Makmun (2007) merumuskan bahwa motivasi merupakan suatu kekuatan (power) atau tenaga (force) atau daya (energy); atau suatu keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu (organisme) untuk bergerak (to move, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.

Menurut Terry (1986) motivasi adalah keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan (perilaku). Stooner (1992) mendefinisikan bahwa motivasi adalah sesuatu hal yang menyebabkan dan yang mendukung tindakan atau perilaku seseorang. Knootz (1972) merumuskan bahwa motivasi mengacu pada dorongan dan usaha untuk memuaskan kebutuhan atau suatu tujuan (Motivation refers to the drive and efford to satisfy a want or goal). Sedangkan Hasibuan merumuskan bahwa motivasi adalah suatu perangsang keinginan (want) dan daya penggerak kemajuan bekerja seseorang. Ia menambahkan bahwa setiap motif mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai (Notoatmodjo, 2007).
       Dari berbagai batasan dan dalam konteks yang berbeda seperti tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi pada dasarnya merupakan interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Di dalam diri seseorang terdapat “kebutuhan” (needs) atau “keinginan” (wants) terhadap objek di luar seseorang tersebut, kemudian bagaimana seseorang tersebut menghubungkan antara kebutuhan dengan “situasi di luar” objek tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan yang dimaksud. Oleh sebab itu, motivasi adalah suatu alasan (reasoning) seseorang untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya (Notoatmodjo, 2007).

2.    Sumber motivasi

1)    Motivasi instrinsik: Yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Termasuk motivasi intrinsik adalah ibu nifas yang melakukan senam nifas karena keinginannya sendiri.
2)    Motivasi ekstrinsik: Yaitu motivasi yang datangnya dari luar individu, misalnya setelah ibu A melihat tetangganya yang melakukan senam nifas, maka ibu A juga ingin melakukan senam nifas.
3)    Motivasi terdesak: Yaitu motivasi yang muncul dalam kondisi terjepit dan munculnya serentak serta menghentak dan cepat sekali munculnya pada perilaku aktifitas seseorang. Misanya dalam kondisi terdesak Ny. N harus menyelamatkan diri maka ia mampu melompati pagar setinggi 1 meter lebih dengan baik. Padahal sebelumnya Ny. N tidak pernah melompat setinggi itu karena di bukan atletik. (Widayatun, 2009).
4)     
3.    Klasifikasi motivasi
Ada beberapa ahli psikologis membagi motivasi dalam beberapa tingkatan, namun secara umum terdapat keseragaman dalam mengklasifikasikan tingkatan motivasi, yaitu:

1)    Motivasi Kuat: Motivasi dikatakan kuat apabila dalam diri seseorang memiliki keinginan yang positif, mempunyai harapan yang tinggi, dan memiliki keyakinan yang tinggi bahwa dirinya akan berhasil dalam mencapai tujuan dan keinginannya.
2)    Motivasi Sedang: Motivasi dikatakan sedang apabila dalam diri seseorang memiliki keinginan yang positif, mempunyai harapan yang tinggi, namun memiliki keyakinan yang rendah untuk berhasil dalam mencapai tujuan dan keinginan.
3)    Motivasi Lemah: Motivasi dikatakan lemah atau rendah apabila di dalam diri seseorang memiliki keinginan yang positif namun memiliki harapan dan keyakinan yang rendah bahwa dirinya dapat mencapai tujuan dan keinginannya. (Irwanto, 2007).

4.    Unsur-unsur motivasi

1)    Motivasi merupakan suatu tenaga yang dinamis manusia dan munculnya memerlukan rangsangan baik dari dalam maupun dari luar
2)    Motivasi seringkali ditandai dengan perilaku penuh emosi
3)    Motivasi merupakan reaksi pilihan dari berbagai alternatif pencapaian tujuan
4)    Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam diri manusia. (Widayatun, 2009).

5.    Teori motivasi

1.Teori hedonisme
Hedone dalam bahasa Yunani adalah kesukaan, kekuatan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme, manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang meningkatkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Oleh karena itu, setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternatif pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan daripada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan, dan sebagainya. Implikasi dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa orang akan cenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan atau mengandung resiko berat dan lebih suka melakukan suatu yang mendatangkan kesenangan baginya (Purwanto, 2007).

2.Teori naluri
Bahwa pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok yang dalam hal ini disebut juga naluri, yaitu: 1) dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri; 2) dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri; 3) dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau mempertahankan jenis. Oleh karena itu, menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan ditujukan perlu dikembangkan (Purwanto, 2007).
           
3.Teori reaksi yang dipelajari
Teori berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan di tempat orang itu hidup. Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik hendaknya mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya (Purwanto, 2007).

4.Teori pendorong
Teori ini merupakan panduan antar “teori naluri” dengan "teori reaksi yang dipelajari". Daya dorong adalah semacam naluri tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Oleh karena itu, menurut teori ini bila seseorang memimpin atau mendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus berdasarkan atas daya pendorong yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan yang dimilikinya (Purwanto, 2007).

5.Teori kebutuhan
Teori motivasi sekarang banyak orang adalah teori kebutuhan. Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya adalah kebutuhan fisik maupun psikis. Oleh karena itu menurut teori ini apabila seorang pemimpin atau endidik ingin memotivasi anak buahnya,  ia harus mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang dimotivasinya (Purwanto, 2007).

6.Teori Abraham Maslow
Sebagai pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok manusia yang dimaksud adalah:

a.Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan vital, yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dari dasar organisme manusia seperti kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan, serta kesehatan fisik, dan sebagainya.

b.Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safely and Security)
Seperti terjamin keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil, dan sebagainya.

c.Kebutuhan sosial (social needs)
Yang meliputi kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagi pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan dan kerjasama.

d.Kebutuhan harga diri
Termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat, dan sebagainya.

e.Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self actualization)
Seperti kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas, dan ekspresi diri. (Purwanto, 2007).

6.    Tujuan motivasi
Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Dalam mencapai tujuan motivasi, maka setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi (Purwanto, 2007).

7.    Proses motivasi
Motivasi itu ada atau terjadi karena adanya kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi untuk segera beraktivitas segera mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan motivasi sebagai motor penggerak maka bahan bakarnya adalah kebutuhan (need), (Widayatun, 2009).

Sedangkan proses motivasi menurut Ali Zaidin (2004) adalah:
1)    Dimulai dengan adanya kebutuhan dimana individu tersebut berada dalam keadaan tegang ingin memenuhi kebutuhan tersebut
2)    Dilaksanakan aktivitas tertentu untuk memenuhi kebutuhan tersebut
3)    Apabila kebutuhan terpenuhi maka terjadi kepuasan dan ketegangan berkurang
4)    Apabila kebutuhan tidak terpenuhi (tujuan tidak tercapai) dapat menimbulkan konflik dalam dirinya. (Ali Zaidin, 2004).

8.    Fungsi-fungsi motivasi

1)    Motif itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak. Motif itu berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada seseorang untuk melaksanakan tugas
2)    Motif itu menentukan arah perbuatan, yakni ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh
3)    Motif itu menyeleksi perbuatan kita. Artinya, menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu. (Purwanto, 2007).

9.    Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi

a.Faktor fisik
Motivasi yang ada didalam diri individu yang mendorong untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik seperti kebutuhan jasmani, raga, materi, benda atau berkaitan dengan alam. Faktor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi lingkungan dan kondisi seseorang, meliputi:             Kondisi fisik lingkungan,        Lingkungan akan mempengaruhi motivasi seseorang. Orang yang hidup dala lingkungan tempat tinggal yang kondusif (bebas dari polusi, asri, tertib, dan disiplin) maka individu yang ada disekitarnya akan memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.;           Keadaan atau kondisi kesehatan,        Individu yang kondisi fisiknya sakit maka akan memiliki motivasi yang kuat untuk mempercepat proses penyembuhan. Kondisi fisik seseorang akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

b.Faktor hereditas, lingkungan dan kematangan atau usia
Motivasi yang didukung oleh lingkungan berdasarkan kematangan atau usia seseorang. Umur merupakan tingkat kedewasaan seseorang. Orang yang mempunyai umur produktif akan mempunyai daya pikir yang lebih rasional dan memiliki pengetahuan yang baik sehingga orang memilki motivasi baik.

c.Faktor instrinsik seseorang
Motivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri biasanya timbul dari perilaku yang dapat memenuhi kebutuhan sehingga puas dengan apa yang sudah dilakukan.

d.Fasilitas (sarana dan prasarana)
Motivasi yang timbul karena adanya kenyamanan dan segala yang memudahkan dengan tersedianya sarana-sarana yang dibutuhkan untuk hal yang diinginkan.

e.Situasi dan kondisi
Motivasi yang timbul berdasarkan keadaan yang terjadi sehingga mendorong memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu.

f.Program dan aktifitas
Motivasi yang timbul atas dorongan dalam diri seseorang atau pihak lain yang didasari dengan adanya kegiatan (program) rutin dengan tujuan tertentu.

g.Audio visual aid (media)
Motivasi yang timbul dengan adanya informasi yang di dapat dari perantara sehingga mendorong atau menggugah hati seseorang untuk melakukan sesuatu.
(Widayatun, 2009).

10. Cara meningkatkan motivasi
Menurut Widayatun (2009) cara meningkatkan motivasi adalah sebagai berikut:
1)    Dengan tingkat verbal: berbicara untuk membandingkan semangat, pendekatan pribadi, diskusi, dan sebagainya
2)    Tingkah laku ( meniru, mencoba, menerapkan)
3)    Tehnik intensif dengan cara mengambil kaidah yang ada
4)    Supertisi (kenyataan akan sesuatu secara logis, namun membawa keuntungan)
5)    Citra dan image, yaitu dengan imajinasi atau dengan khayal yang tinggi sehingga individu termotivasi. (Widayatun, 2009).


11. Pengukuran Motivasi
Menurut Notoatmodjo (2005) ada beberapa cara untuk mengukur motivasi, yaitu:

a.Tes proyektif
Apa yang kita katakan merupakan cerminan dari apa yang ada dalam diri kita. Dengan demikian untuk memahami apa yang dipikirkan orang lain, maka kita beri stimulus yang harus diinterpretasikan. Salah satu tehnik proyektif yang banyak dikenal adalah Thematic Apperception Test (TAT).

b.Kuisioner
Salah satu cara untuk mengukur motivasi melalui kuisioner adalah dengan meminta klien untuk mengisi kuisioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing motivasi klien. Sebagai contoh adalah EPPS (Edward’s Personal Preference Schedule).
c.Observasi perilaku
Cara lain untuk mengukur motivasi adalah dengan membuat situasi sehingga klien dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan motivasinya.
(Notoatmodjo, 2005).

Pada penelitian ini pengukuran motivasi menggunakan kuisioner dengan memakai Skala Likert. Skala Likert ini dibuat seperti checklist terdiri dari pernyataan positif dan pernyataan negatif dengan 4 pilihan jawaban. Interpretasi penilaiannya adalah sebagai berikut:


Pernyataan positif: 
Sangat Setuju          (SS)    nilainya adalah 4
Setuju            (S)       nilainya adalah 3
Tidak Setuju (TS)     nilainya adalah 2
Sangat Tidak Setuju           (STS)  nilainya adalah 1

Pernyataan negatif:
Sangat Setuju          (SS)    nilainya adalah 1
Setuju            (S)       nilainya adalah 2
Tidak Setuju (TS)     nilainya adalah 3
Sangat Tidak Setuju           (STS)  nilainya adalah 4
      
Untuk mengetahui persentase motivasi ibu nifas dalam melakukan senam nifas dianalisis dengan menggunakan rumus:

P =f/N  ×100%

Keterangan:
P         : Persentase
f           : Jumlah skor jawaban yang benaR
N         : Jumlah skor maksimal jika semua jawaban benar. (Budiarto, 2002).
      
Kemudian hasilnya dimasukkan dalam kriteria:
1)    Motivasi kuat/tinggi  : 67 – 100%
2)    Motivasi sedang       : 34 – 66%
3)    Motivasi lemah/rendah       : 0 – 33% (Hidayat, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

1.    Brayshaw, Eileen. 2008. Senam Hamil dan Nifas. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 105-120.
2.    Budiarto. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 37.
3.    Hidayat, Aziz Alimul. 2003. Riset Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta : 27-34.
4.    Hidayat, Aziz Alimul. 2010. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Salemba Medika, Jakarta : 1-105.
5.    Huliana, Mellyana. 2003. Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Puspa Suara, Jakarta : 47-48.
6.    Irwanto. 2007. Perilaku Manusia. Jakarta : Avisiena.
7.    Jhaquin, Arrwenia. 2010. Psikologi untuk Kebidanan. Nuha Medika, Yogyakarta : 39-40.
8.    Makmun, Abin Syamsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. PT Remaja Rosdakarya Offset, Bandung : 39-41.
9.    Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. PT Rineka Cipta, Jakarta : 119-139.
10. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. PT Rineka Cipta, Jakarta : 218-237.
11. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta, Jakarta : 35-186.
12. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta : 77-88.
13. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : 237-244.
14. Purwadarminto. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Alfabeta, Jakarta.
15. Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya, Bandung : 71-80.
16. Saryono, dkk. 2010. Metodologi Penelitian Kebidanan. Nuha Medika, Yogyakarta : 110-141.
17. Sujiyatini, dkk. 2010. Asuhan Ibu Nifas. Cyrillus Publisher, Yogyakarta : 1-154.
18. Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Penerbit Andi, Yogyakarta : 1-86.
19. Syaifuddin, Abdul Bari dkk. 2002. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : 122-125.
20. Widayatun, Tri Rusmi. 2009. Ilmu Perilaku. ____________, Jakarta : 112-116.
21. Widianti, Anggriyana Tri dkk. 2010. Senam Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika, Yogyakarta: 1-23.
22. Zaidin, Ali. 2004. Teori Motivasi. Pustaka Setia, Bandung: 13-18
23. Suparyanto. Konsep Motivasi. http://www.dr-suparyanto.blogspot.com diakses tanggal 19 April 2012 Jam 15.00 WIB.
  1. Wayan Darsana. 2012. Pengaruh Senam Nifas terhadap involusi Uterus    pada Ibu Post Partum di RSUD Wangaya Bali. http://www.darsananursejiwa.blogspot.com diakses tanggal 18 April 2012 Jam 10.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar