PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Senin, 05 November 2012

SEKILAS TENTANG PROSES PENUAAN PADA MANULA

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PROSES PENUAAN PADA LANJUT USIA (LANSIA)

1.    Definisi Lansia
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamia, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologi maupun psikologi. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, contohnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semangkin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak proposional. WHO dan Undang-Undang nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab 1 pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun adalah usia permulaan tua. Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam dan luar tubuh yang berakhir dalam kematian.

Dalam Buku Ajar Geriatri, Prof.Dr. R. Boedhi Darmojo dan Dr. H. Hadi Martono (1994) mengatakan bahwa “menua” (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia secara perlahan memgalami kemunduran struktur dan fungsi organ. Kondisi ini dapat memengaruhi kemandirian dan kesehatan lanjut usia, termasuk kehidupan seksualnya.

Proses menua merupakan proses terus - menurus atau berkelanjutan secara alami dan umumnya dialami oleh semua mahluk hidup. Misalnya, terjadinya kehilangan pada otak, susunan saraf, dan jaringan lain, hingga tubuh”mati” sedikit demi sedikti. Kecepatan proses menua setiap individu pada organ tubuh tidak akan sama. Ada kalahnya seseorang tergolong lanjut usia atau masih muda, tetapi telah menunjukan kekurangan yang mencolok (deskripansi). Ada pula orang telah tergolong lanjut usia, penampilan masih sehat, segar bugar, dan badan tegak. Walaupun demikian, harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering dialami lanjut usia. Manusia secara lambat dan progresif akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi dan akan menempuh semangkinbanyak distorsi meteoristik dan structural yang disebut sebagai penyakit degenerative (misal, hipertensi, arteriosklerosis, diabetes militus, dan kanker) yang akan menyebabkan berakhirnya hidup dengan episode terminal yang dramatis, misanya stroke, inframiokard, koma asidotik, kanker metastasis, dan sebagainya.

Proses menua merupakan kombinasi bermacam-macam factor yang saling berkaitan. Sampai saat ini, banyak define dan teori yang menjelaskan tentang proses menua yang tidak seragam. Secara umum, proses menua di definisikan sebagai perubahan yang terkait waktu, bersifat universal, intrinsic, progesif, dan detrimental. Keadaan tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan untuk dapat bertahan hidup. Berikut akan dikemukakan bermacam-macam teori proses menua yang penting.

2.    Teori Proses Menua
Proses menua bersifat individual:
1)    Tahap proses semua terjadi pada orang dengan usia berbeda.
2)    Setiap lanjut usia mempunyai kebiasaan berbeda.
3)    Tidak ada satu factor pun yang ditemukan dapat mencegah proses menua.

Teori Biologi
a. Teori genetic
Teori genetic clok. Teori ini merupakan teori intrinsik yang menjelaskan bahwa di dalam tubuh tarjadi jam biologis yang mangatur gen dan menentukan proses penuaan. Teori ini menyatakan bahwa menua itu telah terprogam secara genetik untuk proses tertentu. Setiap spesies di dalam inti selnya memiliki suatu jam genetik/jam biologis sendiri dan setiap spesies mempunyai batas usia yang berbeda-beda yang telah diputar menurut replikasi tertentu sehingga jenis ini berhenti berputar, ia akan mati.

Manusia mempunyai umur harapan di nomor dua terpanjang setelah bulus. Secara teoritis, memperpanjang umur mungkin terjadi, meskipun hanya beberapa waktu dengan pengaruh dari luar, misalnya menigkat kesehatan danpencegahan pentakit dengan pemberian obat-obatan atau tindakan tertentu.

Teori mutasi somatik. Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya mutasi somatic akibat pengaruh lingkungan yang buruk. Terjadi kesalahan proses transkripsi DNA atau RNA dan dalam proses translasi RNA protein/enzim. Kesalahan ini terjadi terus menerus sehingga akhirnya akan terjadi penurunan fungsi organ atau perubahan sel menjadi kangker atau penyakit .setiap sel pada saatnya akan mengalami mitasi, sebagai contoh yang khas adalah mitasi sel kelamin sehingga terjadi penurunan kemampuan funngsional (Suhana, 1994; Constantinides,1994).

b. Teori nongenetik
Teori penurunan sistem imun tubuh (Auto-immune theory). Mutasi yang berulang dapat menyebabkan berkurangnya kemempuan system imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition).jika mutasi yang merusak membran sel akan menyebabkan system imun tidak mengenalinya sehingga merusaknya. Hal inilah yang mendasari peningkatan penyakit auto-imun pada lanjut usia (Goldstein, 1989). Dalam proses metabolisme tubuh, diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh, tambahan kelenjar timus yang yang pada usia dewasa berinvolusi pada sejak itu terjadi kelainan autoimun.

Teori kerusakan akibat radikal bebas (free radikal treory). Teori radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas dan di dalam tubuh karena adanya proses metabolisme atau proses pernapasan di dalam mitokondria. Radikal bebas merupakan suatu atom atau molekul yang tidak setabil karena mempunyai elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaaktif meningkat atom atau molekul lain yang menimbulkan berbagai kerusakan atau perubahan dalam tubuh. Tidak setabilnya radikal bebas             (kelompok atom) mengkibatkan oksidasi oksigen bahan organik, misalnya karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini menyebabkan sel tidak dapat bergenerasi (Halliwel, 1994). Radikal bebas dianggap sebagai penyebab penting terladinya kerusakan fungsi sel radikal bebas yang terdapat lingkungan seperti;
1.  Asap kendaraan bermotor
2.  Asap rokok.
3.  Zat penggawet makanan.
4.  Radiasi.
5.  Sinar ultraviolet yang menggakibatkan terjadinya perubahan pingmen dan kolagen pada proses menua.

Teori menua akibat metabolisme. Telah dibuktikan dalam bagian percobaan hewan, bahwa pengurangan asupan kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur, sedangkan perubahan asupankalori yang menyebabkan kegemukan dapat memperpendek umur (Bahri dan Alem,1989);dan (Boedhi Darmojo, 1999).
Teori rantai silang (Cross link theory). Teri ini menjelaskan bahwa menua di sebabkan oleh lemak, protein, karbohidrat, dan asam muneklaet (molekul kolagen) berreaksi dengan zat kimia dan radiasi, mengubah fungsi jaringan yang mebabkan perubahan pada membran pasma, dan hilangnya fungsi pada proses menua.

Teori fisiologis. teori ini merupakan teori intrinsic dan ekstrinsip. Terdiri atas teori Oksidasi stress, dan teori Dipakai-Aus (Wear and Tear Theory). Di sini terjadi kelebian usaha dan setres menyebabkan sel tubuh lelah terpakai (regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkunggan internal).

c.Teori Sosiologis
Teori Interaksi Social
Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lanjut usia bertindak pada suatu situasi tertentu ,yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masarakat. Kemampuan lanjut usia untuk terus menjalani instruksi social merupakan kunci mempertahankan status sosialnya berdasarkan kemampuannya bersosialisasi. Pokok-pokok social excheange theory antara lain ;
1.    Masarakat terdiri atas ektor social yang berupaya mencapai tujuannya masing-masing.
2.    Dalam upaya tersebut terjadi interaksi social yang memerlukan biyaya dan waktu.
3.            Untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai, seorang aktor mengeluarkan biaya.

Teori aktivitas atau kegiatan
1.            Keten tuan tentang semakin menurunnya jumblah secara langsung. Teori
1.    Ini menyatakan bahwa lnjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan banyak ikut-serta dalam kegiatan social.
2.    Lanjut usia akan marasakan kepuasan dapat melakukan aktivitas dan mempertahankan aktifitas serta selama mungkin.
3.            Ukuran optimum (pola hidup) di lanjutkan pada acara hidup lanjut usia.
4.    Mempertahankan hubungan antara system sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan sampai lanjut usia.

Teori kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dalam kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan teori yang di sebutkan sebelumnya. Teori ini menyatakan bahwa berubahan yang terjadi pada seorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personalitas yang di milikinya. Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan usia lanjut. Dengan demikian, pengalaman hidup seseorang pada suatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lanjut usia. Hal ini  dapat dilihat dari gaya hidup, prilaku, dan harapan seseorang ternyata tidak berubah. Walaupun ia telah lanjut usia.

Teori pembebasan / penarikan diri (Disengagement Theory)
Teori ini membahas putusnya pergaulan atau hubungan dngan masarakat dan kemunduran individu lainnya.

Pokok-pokok Disengagement Theory
1.            Pada pria, kehilangan peran hidup utama terjadi pada masa pensiun, pada
1.    wanita, terjadi pada masa peran dalam keluarga berkurang, misalnya saat anak menginjak dewasa dan meniggalkan  kan rumah untuk belajar dan menikah.
2.    Lanjut usa dan masarakat menarik manfaat dari hal ini karna lanjut usia Dapat merasakan teknan social berkurang, sadengkan kaum muda mamperoleh kesempatan kerja yang lebih baik.
3.            Ada tiga aspek utama dalam teori ini yang perlu diperhatikan:
a)    Proses menarik diri terjadi sepanjang hidup.
b)    Proses tersebut tidak dapat di hindari.
c)    Hal ini diterima lanjut usia dan masarakat.

Teori yang pertama dilanjutkan oleh commin dan Henry (1961). Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambah lanjutnya usia, apalagi di tambah dengan adanya kemiskinan, lanjut usia secara berangsur-angsurmulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering lanjut usia mengalami kehilangan ganda (triple loss):
1.         Kehilangan peran (loss of role).
2.         Hambatan kontak sosial (restriction of contact and relationship).
3.         Berkurangnya komitmen (reduced commitment to social mores and values).

Menurut teori ini, seorang lanjut usia dinyatakan mengalami proses menua yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu dan dapat memusatkan diri pada persoalan pribadi dan mempersiapkan diri menghadapi kematiannya.

Dan penyebab terjadinya proses menua tersebut, ada beberapa peluang yang memungkinkan dapat diintervensi agar proses menua dapat diperlambat. Kemungkinan yang terbesar adalah mencegah:
1)    Menungkatnya radikal bebas.
2)    Memanipulasi system imun tubuh.
3)    Melalui metabolisme/ makanan, memang berbagai “misteri kehidupan masih banyak yang belum bisa terungkap, proses menua merupakan salah satu misteri yang paling sulit dipecahkan”.

Selain itu, peranan factor resiko yang dating dalam luar (eksogen) tidak boleh dilupakan, yaitu factor lingkungan dan budaya gaya hidup yang salah. Banyak factor yang mempengaruhi proses menua (menjadi tua), antar lain herediter atau genetic, nutrisi atau makanan, status kesehatan, pengalamn hidup, lingkungan, dan stress. Jadi, proses menua atau menjadi lanjut usia bukanlah suatu penyakit, karena orang meninggal bukan karena tua, orang muda pun bisa meninggal dan bayi pun bisa meninggal. Banyak mitis megenai lanjut usia yang sering merugikan atau bernada negative, tetapi sangat berbeda dengan kenyataan yang dialaminya.

3.    Perubahan akibat Proses Menua

Sel:
1.            Jumlah sel menurun/lebih sedikit.
2.            Ukuran sel lebih besar.
3.            Jumlah cairan tubuh dan cairan intraselular berkurang.
4.            Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun.
5.            Jumlah sel menurun.
6.            Mekanisme perbaikan sel terganggu.
7.            Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10 %.
8.            Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.

System persarafan:
1.            Menurun hubungan persarafan.
2.    Berat otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya).
3.            Respon dan waktu untuk bereaksi lambat, kususnya terhadap setres.
4.            Saraf panca-indra mengecil.
5.    Pengliatan berkurang, pendengaran menghilang, saraf penciuman dan prasa menggecil, lebih sensitive terhadap perubahan suhu, dan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
6.            Kurang sensitif terhadap sentuhan.
7.            Defisid memori.

System Pendengaran
1)    Gangguan pendengaran. Hilangnya daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
2)    Membran timpani menjadi atrobi menyebabkan otosklerosis.
3)    Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karna meningkatnya keratin.
4)    Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan/stress.
5)    Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah,
6)    Bisa terus menerus atau interminten).
7)    Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar).


System Penglihatan
1)    Sfingter ouoil timbul sklerosis dan respons terhadap sinar menghilang.
2)    Kornea lebih berbentuk sferis(bola).
3)    Lensa lebih suram(kekeruhan pada lensa), menjadi katarak,jelas  menyebabkan gangguan penlihatan.
4)    Meningkatnya ambang,pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat,susah melihat dalam gelap.
5)    Penurunan/hilangnya daya akomodasi, dengan manifestasi presbiopia,seseorang sulit dekat yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas lensa.
6)    Lapang pandang menurun: luas pandangan berkurang.
7)    Daya membedakan warna menurun,terutama warna biru atau hijau pada skala.

Sistem Kardiovaskular
1)    Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
2)    Elastisitas dinding aorta menurun.
3)    Kemampuan jantung memompa darahmenurun 1% setiap tahun sesudah berumur 5 tahun. Hal ini menyebabkan kontraksi dan volume menurun (frekuensi denyut jantung maksimal = 200-umur).
4)    Curah jantung menurun(isi semenit jantung menurun).
5)    Kehilangan elastisitas pembuluh darah, efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi berkurang,perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak).
6)    Kinerja jantung lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan.
7)    Tekanan darah meninggi akibat resistensi pembuluh darah perifer meningkat.sistole normal 95 mmHg.

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat,yaitu menetapkan suatu suhu tertentu. Kmunduran terjadi berbagai factor yang memengaruhinya yang sering ditemui antara lain;
1)    Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis ±35c ini akibat                      metabolisme yang menurun.
2)    Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasakan kedinginan dan dapat pula menggigil,pucat,dan gelisah.
3)    Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktivitas otot.

System pernafasan
1)    Otot pernapasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku.
2)    Aktivitas silia menurun.
3)    Paru kehilanga elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik napaslebih berat, kapasits maksimum menurun dengan kedalaman bernapas menurun.
4)    Ukuran alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang.
5)    Berkurangnya elastisitas bronkus.
6)    Oksigen pada arteri menurun menjadi 75mmHg.
7)    Karbon dioksida pada artikel tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.
8)    Refleks dan kemampuan batuk berkurang.
9)    Sensitivitas terhadap hipoksida dan hiperkarbia menurun.
10) Sering terjadi emfisema sinilis.
11) Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernapasan menurun seiring pertambahan usia.

Sistem pencernaan
1)    Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal disease yang biar terjadi selama umur 30 tahun. Penyebab lain meliputi kesehatan gigi dan gizi yang buruk.
2)    Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrosi indra pengecap (80%), hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah, terutama rasa manis dan asin,asam, dan pahit.
3)    Esophagus melebar.
4)    Rasa lapar menurun (sensitivitas menurun), asam lambung menurun, motilitas dan waktu pengosongan lambung menurun.
5)    Peristaltic lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6)    Fungsi absrobsi melemah (daya absrobsi terganggu, terutama karbohidrat).
7)    Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun aliran darah berkurang.

Sistem Produksi Wanita
1)    Vagina mengalami kontraktur dan mengecil.
2)    Ovari menciut, uterus mengalami atrofi.
3)    Atrofi payudara.
4)    Atrovi fulfa.
5)    Selaput vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahan warna.

Pria
1)    Testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun ada penurunan secara berangsur-ansur.
2)    Dorogan seksual mnetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kodisi kesehatennya baik, yaitu;
a.    Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia.
b.    Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual.
c.    Tidak perlu cemas karena prosesnya alamiah.
d.    Sebanyak ±75% pria usia di atas  65 tahun mengalami pembeseran prostat

System Genitourinaria
Ginjal.
Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolism tubuh, melalui urin darah yang masuk ke ginjal, disaring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di glomerulus). Mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah keginjal menurun sampai 50% sehingga fungsi tubuh  berkurang. Akibatnya, kemempuan mengonsentrasi urin   menurun,berat jenis urin menurun, proteinuria (biasanya ±1) BUN (blood urea nitrogen) meningkat sampai  21mg% nilai anbangginjal terhadap glukosa maningkat.

Vesika urinaria.
Otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkanfrekuensi nuang air seni meningkat. Pada pria lanjut usia, vesika urinaria sulit dikosongkan sehingga mengakibatksn retensi urin meningkat. Pembesaran prostat. Kurang lebih 75% dialami oleh pria usia diatas 65tahun.

Atrofi vulva
vagina.
Seseorang yang semakin menua, kebutuhan hubungan seksualnya masih ada. Tidak  ada batasan umur tertentukapan fungsi seksual berhenti. Frakuensi hubunga seksual cenderung menurun secara bertahap setiap tahun, tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmatinya berjalan terus sampai tua.

System Endokrin
Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksihormon. Hormon pertumbuhan  berperan sangat penting dalam pertumbuhan, pemantangan, pemeliharan, dan metabolisme organtubuh. Yang termasuk hormon kelaminan adalah ;
1)    Estrogen, progesterone, dan tetosteron yang memelihara alat reprodulsi dan gairah seks. Hormon ini mengalami penurunan.
2)    Kelenjar pancreas (yang memproduksi insulin dan sangat penting dalam pengaturan gula darah).
3)    Kelenjar adrenal/anak ginjal yang memproduksi adrenalin. Kelenjay yang berkaitan dengan hormon pria/wanita. Salah satu kelenjar endokrin dalam tubuh  yang mengatur agar arus darah ke organ tertentu berjalan lebih baik, dengan jalan mengatur vasokonstriksi pembulu darah. Kegiatan kelenjar anak ginjal ini berkurang pada lanjut usia.
4)    Produksi hampir semua hormon menurun.
5)    Fungsi parateroid dan sekresinya tidak berubah.
6)    Hipovisis; pertumbuhan hormon ada, tetapi lebih rendah dan hanya didalam pembulu darah; berkurangnya ACTH, TSH, FSH, dan LH.
7)    Aktifitas tiroit, BMR (basal metabolic rate ), dan daya pertukaran zat munurun.
8)    Produksi aldosteron menurun.
9)    Sekresis hormone kelamin, misalnya progesteron, estrogen, dan testos teron, menurun.

System Integumen
1)    Kulit mengerut atau kriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2)    Permukaan kulit cenderung kusam, kasar, dan bersisik (kerena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk sel epidermis).
3)    Timbul bercak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang tidak merata pada permukaan kilit sehingga tampak bintik-bintik dan noda coklat.
4)    Terjadi perubahan pada daerah sekitar mata, tumbuhnya kerut-kerut halus di ujung mata akibat lapisan kulit menipis.
5)    Tespon terhadap  trauma menurun.
6)    Mekanisme proteksi kulit menurun;
1.     Produksi serum menurun.
2.     Produksi viamin D menurun.
3.     Pigmentasi kulit terganggu.
7)    Kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu.
8)    Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
9)    Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi.

System Muskuloskeletal
1)    Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh.
2)    Gangguan tulang, yakni mudah mengalami demineralisasi.
3)    Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebra, pergelangan, dan paha. Insiden osteoporosis dan fraktur meningkat pada area tulang tersebut.
4)    Kartilago yang meliputi permukaan sendi tulang penyangga rusak dan anus.
5)    Kifosis.
6)    Gerakan pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas.
7)    Gangguan gaya berjalan.
8)    Kekakuan jaringan penghubung.
9)    Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang) (Wahyudi Nugroho).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arumi, Sekar (2011). Menstabilkan Darah Tinggi dan Darah Rendah.Penerbit araska: Yogyakarta
  2. Dalimartha, Setiawan dkk (2008).care your self Hipertensi.penerbit KDT : Jakarta
  3. Dekker, E (2005). Hidup dengan Tekanan DarahTinggi. PT surya multi grafika. Jakarta
  4. Jain, Ritu (2011). Pengobatan Alternative untuk Mengatasi Tekanan Darah. PT gramedia pustaka utama : Jakarta
  5. Junaidi, Iskandar (2010). Hipertensi. Penerbit: Bhuana Almu Popular : Jakarta
  6. Wahdah, Nurul (2011). Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Penerbit Multipres: Yogyakarta
  7. Kholish, Nur (2011). Bebas Hipertensi Seumur Hidup dengan Terapi Herbal. Penerbit Real book. Yogyakarta
  8. Kowelski, e Robert, (2010). Terapi Hipertensi. Penerbit PT Mizan Pustaka: Bandung
  9. Samadi, budi (2002). Teknik Budi Daya Mentimun Hibrida. Penerbit Kanisius: Yogyakarta
  10. Maryam. dkk (2008).Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Salemba Medika: Jakarta
  11. Nugroho (2008). Keperawatan Gerontik. Buku Kedokteran EGC: Jakarta
  12. Nursalam. (2011). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan  Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta.
  13. Pearce, Evelyn c (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Penerbit PT gramedia : Jakarta
  14. Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UNIPDU Jombang. (2010). Buku Panduan Penyusunan Proposal dan Skripsi.
  15. Setiadi. (2007).Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. edisi pertama. Penerbit Graham Ilmu : Yogyakarta
  16. Soeryoko, Hery (2010). 20 Tanaman Obat Terpopuler Penurun Hipertensi. Penerbit C.V ANDI OFFSET : Yogyakarta
  17. Surtiretna, Nina (2006). Menganal System Peredaran Darah.PT kiblat : Bandung
  18. Yuliarti, Nurheti (2011). Libas Hipertensi Dengan Herbal.gajayana publisher : Yogyakarta
  19. Gunawan Lany (2001). Hipertensi :  Tekanan DarahTinggi, Kanisius. Yogyakarta
  20. Soeparman & Sarwono (2001). Buku Ajaran Penyakit Dalam. jilid 2, Balai Penerbit FKUI: Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar