PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Senin, 05 November 2012

SEKILAS TENTANG HIPERTENSI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SIKILAS TENTANG HIPERTENSI

1.    Definisi Hipertensi
Menurut WHO (2006) hipertensi adalah tekanan darah yang berada di atas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi (Halim, 2003)
Takanan darah tinggi (hipertensi) adalah keadaan yang ditandai  dengan terjadinya peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Hipertensi merupakan penyakit yang umumnya tidak menunjukan gejala, atau bila ada, gejalanya tidak jelas, sehingga tekanan yang tinggi di dalam arteri seringh tidak dirasakan oleh penderita. Ukuran tekanan darah (tensi) dinyatakan dengan dua angka ; angka yang diatas diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sisitolik), angka yang di bawah diperoleh ketika jantung berileksasi (diastolik). Itu sebabnya tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, (dibaca: seratus dua puluh per delapan puluh millimeter air raksa). Seseorang di katakan memiliki tekanan darah tinggi jika tekanan sistolik posisi duduk mencapai 140 mmHg atau lebih, tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Umumnya pada tekanan darah tinggi, kenaikan terjadi pada tekanansistolik dan diastolic (Iskandar. 2010).

2.    Tipe-tipe Hipertensi
Pada dasarnya hipertensi dikelompokkan menjadi dua yaitu:
Hipertensi Esensial (Hipertensi Primer atau Idiopatik) penyebab utama dari 90 % kasus hipertensi yang dilaporkan tidak dapat dipastikan. Tekanan darah tinggi jenis ini disebut hipertensi esensial. Walaupun misterius, hipertensi esensial telah dihubungkan dengan faktor-faktor resiko tertentu, seperti :
1)    Faktor keturunan
2)    Lebih banyak terjadi pada pria
3)    Usia dan ras
4)    Kelebihan berat badan
5)    Konsumsi alcohol

Dan Hipertensi Sekunder penyebabnya langsungnya dapat diketahui, kondisi itu disebut hipertensi sekunder. Di antara penyebab hipertensi sekunder, penyakit ginjal menempati posisi terdepan. Hipertensi sekunder juga dipicu oleh faktor-faktor berikut :
1.            Koarktasi aorta (bentuk cacat dari arteri besar yang mengalir darah dari jantung).
2.            Tumor kelenjar hipofisis.
  1. Tumor otak / peningkatan tekanan intracranial (Jain. 2011)

4.    Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa menurut badan kesehatan dunia WHO tahun 1999 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2 Klasifikasi hipertensi pada orang dewasa menurut badan kesehatan dunia WHO.



Kategori
Tekanan Sistolik
(mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
Tensi optimal
< 120
>80
Tensi normal
<130 span="span">
>85
Tensi normal tinggi
130-139
85-89
Tingkat 1 : hipertensi ringan
140-159
90-99
Subgroup :batas
140-249
90-94
Tingkat 2 : hipertensi sedang
160-179
100-109
Tingkat 3 : hipertensi berat
180-209
110-119
Hipertensi sistolik isolasi
≥ 140
>90
Subgroup : batas
140-149
>90
Tingkat 4 : hipertensi maligna
≥ 210
≥120

Takanan darah yang tinggi menyebabkan terjadinya cedera pada lapisan dalam pembuluh darah arteri (sel endotel) sehingga terjadi disfungsi endotel.
Selain itu angiotensin II yang biasanya meningkat pada hipertensi merupakan vasokontriktor yang kuat dengan reseptornya yang dapat menambah penumpukan ion Ca ++ intrasel, dan menstimulasi proliferasi/hipertrofi otot polos arteri. Hipertensi juga memiliki kemampuan pro-inflamasi yang dapat meningkatkan pembentukan hydrogen peroksida dan radikal bebas seperti super-oksida anion dan radikal hidroksil yang mempengaruhi penurunan produksi nitric oxide (NO= vasodilator) yang berfungsi sebagai pelebar arteri (vasodilator) karenanya dapat meningkat adesi lekosit dan resistensi perifer (dr, iskandar. 2010)

5.    Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme kejadian hipertensi masih belum diketahui, tetapi beberapa keadaan mungkin penyebab hipertensi pada lansia diantaranya adanya perubahan pada struktural dan fungsional pada system pembuluh perifer yang bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia. Perubahan tersebut meliputi ateriosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi pembuluh dan daya renggang pembuluh darah. Konsenkuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung, mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer. (Brunner dan Suddart, 2002).

6.    Faktor Resiko
Seseorang yang menderita hipertensi akan memiliki penderitaan yang lebih berat lagi jika semakin banyak faktor resiko yang menyertai. Hampir 90 % penderita hipertensi tidak diketahui penyebabnya dengan pasti.
Para ahli menbagi dua kelompok faktor resiko pemicu timbulnya hipertensi, yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol.
faktor yang tidak dapat dikontrol adalah :
1)    Keturunan
2)    Jenis kelamin
3)    Umur

Dan faktor yang dapat dikontrol adalah :
1)    Kegemukan
2)    Konsumsi garam berlebih
3)    Kurang olahraga
4)    Merokok dan konsumsi alkohol menurut (Setiawan,dan Basuki team. 2008)

7.    Gejala Hipertensi
Pada umumnya hipertensi tidak menimbulkan gejala yang jelas dan sering tidak didasari kehadirannya. Ada kalanya secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padaha sebenarnya tidak selalu). Gejala yang di maksud adalah gejala kepala, perdarahan dari hidung, wajah kemerahan kelelahan. Semua gejala tersebut bisa terjadi pada siapa saja, baik kepada penderita hipertensi maupun seseorang yang tekanan darahnya normal(Iskandar. 2010).

Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala pada hipertensi esensial dan tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah, gejala yang timbul dapat berbeda-beda. Kadang-kadang hipertensi esensial berjalan tanpa gejala, dan baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti pada ginjal, mata, otak dan jantung (Underwood, 2000).

8.    Diagnose Hipertensi
Untuk mengetahui keberadaan hipertensi, pengukuran tekanan darah harus dilakukan dalam keadaan duduk rileks atau berbaring selama 5 menit. Apabila hasil pengukuran menunjukan angka 40/90 mmHg atau lebih, hal ini dapat diartikan sebagai keberadaan hipertensi, tetapi diagnose tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu kali pengukuran saja. Jika pada pengukuran pertama hasilnya tinggi, maka tekanan darah diukur kembali sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi (Iskandar.2010).

9.    Pencegahan Hipertensi
Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam peningkatan resiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti (Wahdah.2011).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arumi, sekar (2011). Menstabilkan Darah Tinggi dan Darah Rendah.Penerbit araska: Yogyakarta
  2. Dalimartha, setiawan dkk (2008).care your self Hipertensi.penerbit KDT : Jakarta
  3. Dekker, E (2005). Hidup dengan Tekanan DarahTinggi. PT surya multi grafika. Jakarta
  4. Jain, ritu (2011). Pengobatan Alternative untuk Mengatasi Tekanan Darah. PT gramedia pustaka utama : Jakarta
  5. Junaidi, iskandar (2010). Hipertensi. Penerbit.bhuana almu popular : Jakarta
  6. wahdah, nurul (2011). Menaklukan Hipertensi dan Diabetes. Penerbit multipres: Yogyakarta
  7. Kholish, nur (2011). Bebas Hipertensi Seumur Hidup dengan Terapi Herbal. Penerbit Real book. Yogyakarta
  8. Kowelski, e Robert, (2010). Terapi Hipertensi. Penerbit PT mizan pustaka: Bandung
  9. Samadi, budi (2002). Teknik Budi Daya Mentimun Hibrida. Penerbit kanisius:Yogyakarta
  10. Maryam. dkk (2008).Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Salemba Medika: Jakarta
  11. Nugroho (2008). Keperawatan Gerontik. Buku Kedokteran EGC: Jakarta
  12. Nursalam. (2011). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan  Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
  13. Pearce, evelyn c (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Penerbit PT gramedia : Jakarta
  14. Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UNIPDU Jombang. (2010). Buku Panduan Penyusunan Proposal dan Skripsi.
  15. Setiadi. (2007).Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan.edisi pertama. Penerbit graham ilmu : Yogyakarta
  16. Soeryoko, Hery (2010). 20 Tanaman Obat Terpopuler Penurun Hipertensi. Penerbit C.V ANDI OFFSET : Yogyakarta
  17. Surtiretna, nina (2006). Menganal System Peredaran Darah.PT kiblat : Bandung
  18. Yuliarti, Nurheti (2011). Libas Hipertensi Dengan Herbal.gajayana publisher : Yogyakarta
  19. Gunawan Lany (2001). Hipertensi :  Tekanan DarahTinggi, kanisius. Yogyakarta
  20. Soeparman & Sarwono (2001). Buku Ajaran Penyakit Dalam.jilid 2, Balai penerbit FKUI: Jakarta



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar