PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 11 November 2012

SEKILAS TENTANG SIKAP

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG SIKAP

1.    Pengertian Sikap
Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Soekidjo Notoatmojo, 2010).

2.    Komponen Sikap
Menurut Azwar (2008) komponen sikap terdiri atas 3 bagian yang saling menunjang yaitu :
1)    Komponen kognitif,  merupakan representasi apa yang dipercaya oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila, menyangkut masalah suatu problem yang kontroversial.
2)    Komponen afektif, merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimilki seseorang terhadap sesuatu.
3)    Komponen konatif, merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimilki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk betindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Dan berkait dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap sesorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.

3.    Tingkatan sikap
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yakni (syaifudin, 2008) :
1)    Menerima (receiving)
2)    Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek)
3)    Merespon (responding): Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena merupakan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
4)    Menghargai (valuting): Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
5)    Bertanggung jawab (responsible): Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko  adalah mempunyai sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.
           
4.    Sifat Sikap
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif, antara lain (Purwanto, 2010):
1)    Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu.
2)    Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu.

5.    Ciri-ciri Sikap
Ciri – ciri sikap antara lain (Purwanto, 2010) :
1)    Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakan dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
2)    Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
3)    Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu dengan obyek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu yang daapt dirumuskan dengan jelas.
4)    Obyek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
5)    Sikap mempunyai segi motivasi dan segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan sikap kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki orang.

6.    Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi sikap, yaitu faktor internal individu dan faktor eksternal individu (Azwar, 2008):

Faktor Internal Individu terdiri dari:
1)    Emosi dalam diri individu, kadang – kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme ego.
2)    Intelegensia, seseorang dengan intelegensia yang tinggi akan dapat memutuskan sesuatu yang dapat mengambil tindakan / sikap yang tepat saat menghadapi suatu masalah.
3)    Pengalaman pribadi, apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulasi sosial.
4)    Kepribadian, orang dengan kepribadian terbuka akan berbeda dalam mengambil sikap dengan orang yang berkepribadian saat menghadapi situasi yang sama.
5)    Konsep diri, seseorang yang memiliki konsep diri yang baik, akan mengambil sikap yang positif saat menghadapi suatu masalah / situasi berbeda dengan orang yang memiliki konsep rendah diri.

Faktor eksternal individu
1)    Institusi atau lembaga pendidikan atau lembaga agama, lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dari diri individu.
2)    Kebudayaan, kebudayaan dimana kita hidup dan didasarkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap sikap. Ahli psikologi terkenal, Burrhus Frederic Skiner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang.
3)    Lingkungan, lingkungan yang kondusif dimana masyarakatnya sangat terbuka dan mudah menerima hal-hal baru akan membuat seseorang akan mengambil sikap positif yang tepat sesuai yang diinginkan.
4)    Media massa, sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.
5)    Orang lain yang dianggap penting, orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan, atau seseorang yang berarti khusus untuk kita (significant others), akan lebih banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Seorang individu pada umumnya cenderung untuk memiliki sikap orang yang dianggap penting.
6)    Situasi, dua orang yang sedang menghadapi masalah yang sama tetapi dalam situasi yang berbeda maka sikap yang diambil tidak akan sama.
           
7.    Bentuk Sikap
Terdapat dua bentuk sikap, yaitu :
1)    Sikap pasif: Sikap yang sifatnya tertentu, terjadi dalam diri individu dan tidak     bisa diamati. Contoh : berfikir dan bernapas
2)    Sikap aktif:    Sikap yang sifatnya terbuka berupa tindakan yang nyata dan dapat diamati secara langsung.

8.    Teori Perubahan Sikap
Terdapat 3 dalam teori perubahan sikap, antara lain (Azwar, 2008)
1)    Teori stimulus organism: Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung pada kualitas rangsang yang berkomunikasi dengan organisme. Sehingga perilaku dapat berubah bila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula.
2)    Teori testinger: Teori ini didasarkan karena ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Karena dalam diri individu terdapat dua elemen kognisi yang saling bertentangan dan yang sama penting.
3)    Teori Fungsi: Teori ini berdasarkan anggapan perubahan perilaku individu tergantung kepada kebutuhan. Sehingga teori fungsi berkeyakinan bahwa perilaku mempunyai fungsi untuk menghadapi  dunia luar individu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya.
4)    Teori Kurt Lewin: Perilaku manusia adalah suatu keadaan untuk seimbang antar kekuatan pendorong dan penahan. Perilaku itu dapat diubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut sehingga ada tiga kemungkinan perubahan perilaku pada diri seseorang: kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun, atau gabungan.

9.    Bentuk Perubahan Sikap
Bentuk perubahan sikap meliputi (Azwar, 2008)
1)    Perubahan alamiah (natural change): Sikap manusia selalu  berubah, sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi suatu perubahan fisik atau sosil, budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat didalamnya akan mengalami perubahan.
2)    Perubahan rencana (planed canged): Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri oleh subyek.
3)    Kesediaan untuk berubah (readiness to change): Apabila terjadi suatu suatu inovasi atau program pembangunan didalam masyarakat maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut dan sebagian lagi sangat lambat untuk menerima perubahan tersebut. Hal ini disebabkan seseorang mempunyai  kesediaan untuk berubah yang berbeda.

10. Cara Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dilakukan dengan menggunakan Skala Likert.

Pernyataan positif diberi skor :
Sangat setuju (SS):             4
Setuju (S): 3
Tidak setuju (TS): 2
Sangat tidak setuju (STS): 1

Pernyataan negatif diberi skor :
Sangat setuju (SS): 1
Setuju (S): 2
Tidak setuju (TS): 3
Sangat tidak setuju (STS):             4

Setelah semua data terkumpul dari hasil kuesioner responden dikelompokkan sesuai dengan sub variabel yang diteliti. Jumlah jawaban responden dari masing – masing pernyataan dijumlahkan dan dihitung menggunakan skala likert :
Untuk mengetahui mean T(MT ) sebagai berikut :

                        MT = (∑T)/n

Keterangan :
                        MT       : Mean T
                        ∑T       : Jumlah rata-rata
                        n          : Jumlah responden

            Untuk mengetahui sikap responden dengan menggunakan skor T (Azwar, 2011)
                        Rumus skor T = 50+10 ( (Xi-X^-)/sd)
                        Keterangan :
                        xi         : skor responden
                        x-         : nilai rata-rata kelompok
                        SD      : standart deviasi ( simpangan baku kelompok )

            Menentukan Standart Deviasi ( SD )
                        SD = √(∑fi (xi-x ̅ )²/(n-1))
                        Keterangan :
                        SD      : Standart Deviasi
                        ∑fi       : Jumlah frekunsi
                        xi         : titik tingkat interval
                        x ̅         : rata-rata
                        n          : Jumlah responden.                       (Azwar, 2011)
           
Kemudian untuk mengetahui kategori sikap responden dicari median nilai ( T mean T ) dalam kelompok maka akan diperoleh :
Sikap responden positif, bila T responden > T mean
Sikap responden negatif, bila T responden < T mean (Azwar, 2011)

            Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat/ pernyataan responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan – pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden melalui kuesioner (Notoatmodjo, 2003).

DAFTAR PUSTAKA
1.    Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika. Jakarta
2.    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT. Rineka Cipka. Jakarta
3.    Azwar, Saifuddin. 2010. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
4.    Badriul, Hegar. 2005. Gumoh Bisa Mengganggu Pertumbuhan Bayi. http://www.suaramerdeka.com diakses tanggal 15 April 2012
5.    Donna. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. EGC. Jakarta
6.    Erlina. 2008. Gumoh dan Muntah. http://kuliahbidan.wordpress.com diakses tanggal 15 April 2012
7.    Khoirunnisa, Endang. 2010. Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita. Nuha Medika. Yogyakarta
8.    Notoatmodjo, Soekitdjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta. Jakarta
9.    Nursalam. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk Perawat dan Bidan). Salemba Medika. Jakarta
10. Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta
11. Saryono. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Mitra Cendikia. Yogyakarta
12. Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Graha Ilmu.             Yogyakarta
13. Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier. Salemba Medika. Jakarta
14. Sugiyono. 2002. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung
15. Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. CV. Alfabeta. Bandung
16. Wawan, A dan Dewi. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Salemba Medika. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar